Tampilkan postingan dengan label My Reading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Reading. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 14, 2010

Wanita Langsing

“Assalamu’alaikum, hai Ninaa... wah kangen deh, udah lama gak ketemu, makin subur aja nih...”, jerit kecil Rani dalam sebuah reuni SMP 79 di Jakarta baru-baru ini. Setelah perjumpaan intens itu serta bercanda-ria melalui facebook, akhirnya 5 wanita muda yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, karena usianya sekitar 30 sampai 35 tahunan ini memutuskan untuk berjumpa dalam rangka temu kengen dengan teman-teman satu gengnya dulu, sewaktu mereka masih remaja. “Ikkhh, tebel...”, cubit si langsing Rani, ke lengan Nina yang hanya mesem-mesem tak enak. Kemudian Dian mengalihkan pembicaraan yang menurutnya sudah tidak kondusif lagi karena melihat raut wajah Nina yang agak tidak sumringah seperti biasa.

Di tempat yang lain, “Hai, Ustad Gendut, ayo makan nih Ustad Gendut”, sambil menyorongkan piring berisi roti bakar dan teh manis, Dito, siswa kelas 2 SMP menyorongkan sepiring roti bakar pada ustadnya dalam acara perkemahan akhir tahun di Puncak. Dengan tergopoh-gopoh sang ustad yang memang bertubuh gemuk menyeret tubuhnya yang masih malas bermandikan cahaya matahari dan udara yang sejuk, membuatnya semakin malas untuk bergerak. Tanpa sadar sikapnya itu membuat anak-anak muridnya menjadi berani untuk tidak menghormatinya, dengan panggilan yang melecehkan, “ustad gendut” begitulah panggilannya. Sang ustad pun terlalu malas untuk menjawab atau menegur si anak murid.

“Sst, istri antum hamil lagi ya”, demikian bisik Pak Johan kepada Pak Ferdi ketika mereka bertemu di Bandara Sukarno Hatta. Lalu, perbincangan mereka merembet kesana dan sini yang utamanya menanyakan keadaan bisnis masing-masing. Kemudian dengan wajah malu Pak ferdi menyatakan “Tidak, mungkin istri ana lagi senang, sehingga nafsu makannya agak banyak akhir-akhir ini”, jelasnya ragu dan segera mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang membuat suasana pertemuan menjadi lebih nyaman.

“Subhanallah, Anti makin lebar, lagi senang yaa”, demikian sapa sang murrobiyah, guru ngaji wanitanya Santi yang sudah 7 tahun tidak bertemu dengannya sejak Santi dibawa suaminya ke Palembang. ”Iya ni mbak, di palembang makan melulu, keluarga si mas kan punya restoran pempek, dan makanannya enak-enak”, tawa Santi.

Si gemuk, Si gendut, si lebar, si tebel, sungguh bukanlah julukan atau panggilan atau pengenalan kepada seseorang yang menyenangkan, apalagi bila dia seorang wanita, maka kegemukan yang berterusan serta langkah yang lambat menyeret tubuhnya membuat sang wanita gemuk akan menjadi minder. Terlebih lagi keadaan seperti ini diingatkan terus oleh teman-temannya atau sanak saudaranya, sementara banyaknya iklan televisi, majalah dan iklan lain dimana-mana yang menggambarkan bahwa tubuh langsing yang dibalut pakaian tipis bahkan setengah terbuka adalah tubuh idaman semua lelaki dan juga impian hampir semua wanita. Media telah membuat image bahwa si langsing adalah ratu, dan dimanapun dia berada, dia berhak mendapatkan prioritas baik dari segi pekerjaan, pertemanan maupun hak untuk mem-bully teman-teman wanitanya yang gemuk.

Bahkan sekarang ini, ukuran eksistensi seseorang sering dilihat dari fisiknya, apalagi bila seorang Da’i adalah wanita maka orang akan melihat dari fisiknya. Bila fisiknya langsing maka menyenangkan untuk diihat dan dia berhak untuk menjadi wanita idola.

Oleh karena itu bila para Da’i wanita (khususnya) kurang gemar untuk bersyiar, maka tidak ada lagi idola terhadap wanita solehah. Tidak akan banyak lagi wanita yang berlomba-lomba mendapatkan gelar sholehah itu, karena lebih banyak wanita mengejar derajat kelangsingan daripada derajat kesolehannya.

Apakah tidak jelas bagimu sabda Rasululloh bahwa : “Dunia adalah perhiasan, Sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholehah” (HR. Muslim)

Jadi, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah, tidak wanita yang langsing, bukan?

http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/wanita-langsing.htm

Rabu, Maret 10, 2010

Syar'i-tidaknya Busana Muslimah

Sudah tidak asing lagi di lingkungan kita sosok-sosok wanita Islam (muslimah) yang mengenakan "jilbab", dimana merupakan wujud dari apresiasi hukum wajib Islam yang harus ditaati. Dan adalah hal yang sangat menggembirakan ketika melihat para wanita Islam mulai berbondong-bondong mengenakan jilbab.


Jilbab yang dipahami masyarakat kita adalah jilbab sebagai kerudung, bukan dari makna aslinya, yakni baju luar yang dipakai untuk menutupi tubuh dari atas (kepala) sampai bawah (kaki), kemudian dikenal dengan nama hijab, karena dipakai dengan maksud untuk menghindari dari pandangan laki-laki yang bukan mahram (tidak mempunyai hubungan darah/kekerabatan).


Semakin banyaknya muslimah yang memakai jilbab dewasa ini, nampaknya tidak disia-siakan oleh dunia mode, sehingga terciptalah banyak model/kreasi jilbab yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Dan Pada dasarnya, model seperti apa pun jilbab yang dikenakan seorang muslimah, harus tetap mengacu pada standarisasi jilbab yang dimaksud dalam ajaran Islam, dimana fungsi sebenarnya adalah pakaian takwa atau hijab.

Adapun syarat hijab seorang muslimah adalah:

  1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan, seperti muka dan telapak tangan.
  2. Tidak ada hiasan pada pakaian itu sendiri.
  3. Kain yang tebal dan tidak tembus pandang.
  4. Lapang dan tidak sempit. Karena pakaian yang sempit dapat memperlihatkan bentuk tubuh seluruhnya atau sebagian.
  5. Tidak menyerupai laki-laki.
  6. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
  7. Pakaian yang tidak mencolok.

Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa jibab itu syar'i atau tidak dengan mengacu pada tujuh syarat tersebut.


Yang menarik perhatian penulis dan perlu dicermati adalah model jilbab yang sepertinya syar'i (sesuai aturan Islam) tapi ternyata tidak syar'i. Penulis mengambil contoh salah satu model jilbab lebar (biasanya menjuntai sampai pusar atau menutupi dada) yang ada kerutan dan neci pada leher. Kalau ditarik ke belakang, samping, atau depan (sesuai modelnya), leher akan terlihat lebih ramping tapi tidak mencekik. Dan biasanya, model jilbab ini berbahan kain "jatuh" atau lembek. Kalau kita perhatikan lebih teliti, model seperti ini akan menampakkan lekuk pada pundak dan dada.


Salah satu contoh lainnya, yakni pada jilbab yang ada kerutan di kepala, melingkar dari telinga kanan ke telinga kiri. Kalau yang memakai jilbab model seperti ini menyanggul rambutnya, maka rambut akan terlihat bentuknya, karena posisi kerutan tepat di bawah sanggulan rambut. Padahal dalam konteks menutup aurat, di sini tidak hanya menjadikannya tidak kelihatan secara fisik, tapi juga secara bentuk (lekuk).


Jadi, sudah seharusnya para kaum muslimah lebih hati-hati dalam memilih model jilbab, karena yang disyari'atkan bukan hanya lebar menutup dada, tapi juga harus tebal (tidak transparan), tidak menarik perhatian, dan tidak menampakkan lekuk tubuh.

Wallahu a'lam bishshawab.

Rifatul Farida

Sumber: www.eramuslim.com

Jumat, Januari 29, 2010

Pengantar Wanita Bicara

Wanita : Artikel mengenai pesona wanita ini menggambarkan wanita (sebagai istri, sebagai nenek, sebagai ibu, sebagai mujahiddah, sebagai guru, sebagai ustazah, sebagai anggota masyarakat dan lain-lain), mereka membuat ulah, mereka mengukir sejarah, mereka menebar pesona, namun tanpa mereka, kita tidak pernah ada, Wanita diciptakan untuk mendampingi lelaki sebagaimana ibunda Siti Hawa diciptakan mendampingi Nabi Adam, membangun peradaban ini, meneruskan keturunan dan membawa anak manusia kembali pada ILLAHI dan berbahagia dalam rumah-rumahnya di surga,


Wanita, Hadir dalam hidup kita yang penuh warna dengan sejuta pesona yang menggambarkan ; kekuatan, ketegaran, kesabaran, ketabahan, kepandaian, ketaatan, ketekunan dan kecerdasan yang luar biasa, dan yang terpenting adalah yang tidak akan pernah di alami lelaki adalah kemampuan menahan sakitnya melahirkan bahkan sampai mempertaruhkan nyawa. Namun ketika iman tidak lagi bersemayam di dada, ketika kebodohan dan emosi jiwa mencengkram kuat para wanita, pikiran sehat terbang bercampur di udara, maka wanita mampu menjadi sumber rusaknya rumah tangga, porak porandanya tiang istiqomah para lelaki, hancurnya sebuah negara, dan jeritan sakit hati dari anak-anak yang lahir tanpa kasih seorang wanita.


Maka wajarlah bila Nabi menitipkan banyak pesan kepada para wanita, dan pesan beliau untuk kita ; Wanita di ciptakan dari tulang rusuk kaum adam, bila terlalu keras dia patah, bila terlalu lembut dia bengkok. Dan bila baik wanita maka baiklah sebuah negara.


Nasehatilah para wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulung rusuk wanita adalah yang paling atas. Maka , jika kamu paksa meluruskannya, kamu akan mematahkannya dan jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok (HR Bukhari).


Wanita, mari bergandeng tangan meniti tangga ke surga. Di sanalah seharusnya tempat kita, ketika derita dan susah payah bukan lagi milik kita, namun semua itu hanya bisa di lakukan ketika kita bergelar "wanita Sholeha" dengan bantuan diri kita sendiri dan para lelaki yang bergelar suami, anak, ayah dan para ulama.


Bangkitlah wanita, kita di ciptakan hanyalah untuk beribadah dan membawa diri dan orang-orang di sekeliling kita untuk kembali pada ALLAH SWT.

Salam pesona wanita, From Syaffiya

www.eramuslim.com

Jumat, Januari 15, 2010

3 Tahap Perubahan Posisi Bayi Ketika Akan Lahir

Pernahkah terpikirkan ketika manusia akan lahir dari rahim ibunya ?

Ketika saya melihat Buku Biologi anak saya yang telah lusuh berada di dalam gudang, Saya buka kemudian saya melihat foto bayi dalam rahim. Yang menarik saya untuk mempostingkan foto ini adalah betapa cerdasnya kita ketika mau lahir ke bumi ini. Pada foto pertama tersebut posisi bayi masih jauh dari pintu yang akan dilalui, kemudian pada posisi kedua sudah mulai mendekati pintu dan pintu keluar mulai membesar secara otomatis, lo kok otomatis… kayak mesin saja…he..he… maksudnya buka sendiri. Yang lucunya tahap ketiga kepala bayi nongol… kaya tau saja jalan keluar…he…he…pintar juga tu bayi…, tahap keempat bayi bayi sudah di luar dan tali pusar yang memberi subsidi diputuskan dari rahim terhadap bayi kembali secara otomatis, paru-paru, jantung , ginjal semua mulai berfungsi yang tadinya adalah dibantu oleh rahim baik itu pernapasan maupun gerakan jantung dan termasuk makanan, subsidi masih ada yaitu air susu ibu sudah mulai ada dan siap untuk menyabut bayi yang baru lahir tersebut.


Subhanallah betapa besarnya kekuasaan Allah, yang mana waktu itu kita tidak tau apa-apa. Dan proses tersebut tidak berjalan mulus untuk setiap bayi, tapi ada yang gagal, bahkan meninggal dalam kandungan tidak bisa keluar. Sedangkan kita Allhamdulillah, berjalan mulus dan bisa blogging sekarang. Ini ah suatu pandangan betapa beratnya pengorbanan ibu kita. Bahkan ada yang meninggal dunia saat melahirkan. Mudah mudah-mudahan kita orang yang bersyukur kepada Allah dan kepada Ibu dan Ayah kita. Amin….

http://www.everizal.com

Senin, Januari 11, 2010

Celana Jins dan SMS Istri

Ada sebuah artikel yang...cukup menggelitik. Silakan disimak :)

Celana Jins dan SMS Istri

Kehidupan adalah kampus terbaik. Ya, saya setuju dengan kalimat bijak tersebut. Terbukti, kita bisa belajar dari mana saja dari kehidupan ini. Banyak hikmah yang terkandung dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi. Semuanya menjadi bukti kebesaran-Nya.

Hal paling kecil pun bisa menjadi pertanda kebesaran Allah. Misalnya, lebah dan semut. Maka, tak ada alasan untuk mengingkari nikmat-Nya. Sudah seharusnya manusia bersyukur atas nikmat-nikmat itu.

”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS An-Nahl: 18)

*****

Beberapa bulan belakangan, aktivitas saya begitu padat. Intensitas kegiatan di kantor tersebut cukup menyita waktu dan tenaga. Imbasnya, saya terkadang kurang memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya cukup mengganggu.

Dampak lainnya, intensitas pertemuan saya dengan keluarga juga minim. Namun, saya tak mau larut dengan keluhan ini itu. Saya tak suka menunda pekerjaan yang bisa berakibat menumpuknya pekerjaan lain.

Kendati sibuk, sebisa-bisanya saya tetap meluangkan waktu untuk istri di rumah. Kerja boleh padat, tapi keluarga tetap prioritas. Yang tak kalah penting, baca bismillah setiap akan memulai sesuatu dan salat tepat waktu. Istiqamah dalam menjaga ibadah itu memang tak mudah, tapi kita harus yakin bisa. Saya bersyukur punya istri yang begitu baik dan selalu mengingatkan dalam hal ibadah.

Suatu ketika, sebuah pesan singkat (SMS) masuk di ponsel saya. Saya diminta untuk ke kantor saat itu juga. Ada panggilan tugas mendadak yang harus segera dirampungkan. Setelah mandi dan sarapan, saya bergegas mengambil kemeja di lemari. Karena terburu-buru, setelah memakai kemeja, saya mengambil celana jins di centelan pintu kamar.

Sebelumnya, istri saya sudah mengingatkan agar saya tak memakai celana jins di centelan tersebut. Alasannya, celana ”Maaf, tapi saya buru-buru,” jawab saya kepada dia. Setelah mengucapkan salam kepada istri, saya langsung berangkat ke kantor.

Waktu kian beranjak siang, saya masih meeting. Setelah azan salat Duhur memanggil, saya lekas minta izin untuk salat dahulu. Setelah salat, beberapa waktu kemudan ponsel saya berbunyi, menyampaikan SMS baru.

Rupanya, SMS itu berisi dari istri saya. Namun, semuanya mendadak berubah. Saya tertegun membaca SMS tersebut. Saya yang tadinya semangat menjadi lemas. Raut wajah ini saat itu tak dapat menyembunyikan rasa malu. Apa penyebabnya?

Istri saya ternyata tak suka saya memakai celana jins tadi. Dalam SMS itu, istri saya kecewa karena saya mengenakan jins yang seharusnya dia cuci pagi itu. ”Tak pantas menghadap Allah dengan memakai celana yang sudah lusuh dan kotor,” demikian sebagian isi pesan singkat tersebut.

Saya terhenyak. Bibir saya terasa kelu. Saya betul-betul malu. Istri saya benar. Tak seharusnya saya menghadap Sang Pencipta dalam keadaan memakai celana jins yang mungkin saja sudah kotor tersebut.

Malam ketika mengedit berita, saya teringat dengan SMS tersebut. Sungguh, saya bersyukur dengan anugerah Allah yang begitu besar ini. Ada seorang perempuan baik yang kerap mengingatkan dalam hal kebaikan. Semoga Allah selalu merahmatinya.

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama...

Graha Pena, 5 Januari 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Jumat, November 20, 2009

Dicari Suami Setia

Sebuah artikel saya dapat dari kompas.com publikasi Kamis, 19 November 2009, cukup menggelitik. Silakan dicermati ;)

Dicari Suami Setia


KOMPAS.com - Suami yang setia dan ikatan dengan isterinya kuat, ternyata memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Perkawinan pun bisa membuat orang panjang usia.

“Wah, sulit kalau kita dituntut untuk seperti Arief Budiman,” begitu ujar seorang budayawan yang tak perlu disebut di sini namanya.

Di antara golongan intelektual Arief bukan saja dikenal sebagai doktor sosiologi lulusan Universitas Harvard dan aktivis yang kritis. Arief juga dikagumi banyak wanita (walau tidak tampan dan flamboyan), tapi ia selalu setia kepada isterinya, Leila Ch. Budiman.

Kata budayawan tersebut, “Arief itu orang aneh kalau bukan kelainan.” Ia disebut demikian justru karena hidup lurus, bersahaja, dan tidak tergoda untuk selingkuh walau kesempatan untuk itu sangat besar.

Aktor besar yang menjadi salah satu simbol seks Amerika Serikat, Mel Gibson, juga dianggap orang aneh di dunia selebriti. Bintang yang mata birunya bisa meruntuhkan hati wanita itu, bukan cuma memilih menjauh dari kehidupan gemerlap Hollywood. Ia adalah pria yang lebih suka menghabiskan waktunya dengan isteri dan tujuh anaknya.

Sebaliknya Pangeran Charles. Dunia bahkan mengakui kecantikan dan daya tarik sosial isterinya, Putri Diana. Namun pewaris pertama tahta kerajaan Inggris itu mengejutkan dunia karena tak puas dengan yang ada, dan malah selingkuh dengan mantan pacarnya, Camilla.

Apa yang membuat orang seperti Arief atau Gibson tetap setia? Sudah pasti karena mereka memilih setia. Mengapa? Jawabnya bisa bermacam-macam. Dalam hal Arief, gagasan selingkuh tidak pernah mampir di benaknya. Karena itu dia disebut bersahaja oleh teman-temannya. Sementara Gibson yang dibesarkan secara Katolik oleh orangtuanya, telah menemukan makna hidupnya bersama keluarga, sehingga dia tidak memerlukan sensasi yang lain.

Lebih Kuat
Hidup rukun dengan isteri sebetulnya sangat menguntungkan bagi suami. “Yang hubungannya lebih kuat, akan memperoleh manfaat lebih baik,” ujar Vicki Helgeson, Ph.D., psikolog dari Carnegie Mellon University, di Pittsburgh, AS.

Kita sering mendengar ungkapan bahwa di belakang laki-laki sukses, terdapat wanita yang kuat (sayang ungkapan ini tidak atau belum berlaku sebaliknya, sebab banyak kasus wanita sukses yang justru berpisah dengan suaminya).

Tapi manfaat isteri ternyata bukan cuma mendukung supaya karir suami sukses. Helgeson memberikan bukti-bukti bahwa para pasien serangan jantung yang setia dan bisa bicara terbuka dengan isterinya, lebih sedikit merasakan nyeri dada, dan tidak mendapat serangan ulang pada tahun-tahun berikutnya.

Di Indonesia kasus-kasus kematian mendadak saat selingkuh pun cukup sering diberitakan, dan biasanya memang yang bersangkutan menderita sakit jantung.

Menurut profesor psikologi di University of Michigan Medical School di Ann Arbor, AS, James Coyne, Ph.D., pria yang mendapatkan kepuasan dalam perkawinannya, terbukti mengalami depresi 24 kali lebih sedikit dibanding yang perkawinannya retak.

Para peneliti di Ohio State University, di Amerika Serikat lagi, juga membuktikan bahwa pasangan yang sering bertengkar, melemparkan kata-kata kasar, sinis dan sarkastis, ternyata memiliki tekanan darah lebih tinggi dan sistem kekebalan tubuhnya lebih lemah dibanding yang hubungannya mesra.

Dan kesimpulan para peneliti dari National Center for Health Statistics, AS semakin menegaskan tentang pentingnya hidup rukun dan setia dengan isteri. Sebab, perkawinan yang bahagia juga terbukti membuat pria lebih panjang umur 10 tahun.

Apakah dengan demikian Arief Budiman dan Mel Gibson akan lebih panjang umur ketimbang Pangeran Charles atau pria sebaya mereka, yang selingkuh dan perkawinannya tidak bahagia? Kita lihat saja.

@ Widya Saraswati

Rabu, Mei 27, 2009

Mempersiapkan Kematian Pasangan Hidup

Artikel yang cukup menyentuh (untuk saya pribadi). Silakan dibaca dulu.
Mempersiapkan Kematian Pasangan Hidup

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu

Takkan selamanya, raga ini menjagamu

Seperti alunan detak jantungku

Tak bertahan melawan waktu

(Tak Ada yang Abadi, Peterpan)


Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiyaa': 34-35)


Setiap manusia pasti akan mati. Kalau ada hidup, pasti ada mati.

Kehilangan seseorang yang kita cinta (pasangan hidup,-red) tentu terasa berat. Kehilangan seseorang yang dengannya kita berbagi waktu-mengarungi hidup dalam suka-duka, dalam tawa-air mata, tentu akan terasa sangat berat sekali, mungkin bagaikan kehilangan separuh jiwa, karena kehilangan cinta-dukungan-teman berbagi.

Namun bagaimanapun juga, tiap insan pasti akan merasakan kematian. Dunia hanya sementara, bagai persinggahan sebentar saja. Kepada Allah-lah kita semua akan kembali.

Agar tidak terlalu merasa kehilangan, mungkin kita perlu sejak dini mempersiapkan hal ini. Bukan dengan menyangkal atau bahkan mengharap-harap mati terlebih dahulu.


Milik Iman


Entah siapapun diantara pasangan yang terlebih dahulu meninggal, janganlah terlalu bersedih, terlebih lagi jika memang pasangan kita meninggal dalam keadaan iman dan Islam.

Bukankah orang-orang mukmin (yang tidak mempersekutukanNya) akan masuk surga dan menerima kenikmatan di alam kubur selagi menanti hari berbangkit?

Karenanya, jika memang pasangan kita masih hidup, jagalah agar selama hidup, cahaya iman dan Islam terus bersinar dalam dadanya, sampai ia meninggal. Terangi keluarga dengan cahaya iman dan Islam.

Kalau ada salah satu pasangan yang telah terlebih dahulu meninggal, doakan dia, agar mendapat ampunan atas segala dosa-dosa, menerima rahmat selama di alam kubur sana.

Jaga pula keimanan anda, jangan futur alias berlemah diri setelah ditinggalkan. Agar kalian bisa kembali berkumpul di taman-taman surga kelak, Insya Allah.

When my breath reach to its end

I want you to be there, with me

Holding my hand, strongly

Hoping that we shall be meet again

At the garden of heaven

06052009

-ipin4u-


Bersabar


Kesabaran itu ada tiga macam, bersabar ketika ditimpa musibah, bersabar dalam konsistensi melakukan kebaikan, dan bersabar dalam menolak/melawan keburukan/kemaksiatan.

Tidak bolehkah kita bersedih ketika ditinggal pasangan hidup..?

Tentu boleh, toh kita manusia biasa, yang punya hati yang merasa. Bahkan akan terkesan sangat aneh kalau sampai tidak bersedih. Yang terpenting adalah tetap terjaga batasan-batasan dalam berduka citanya, tidak boleh meratapi, bahkan sampai berbuat yang melebihi batas seperti menampar-nampar pipi sendiri atau merobek-robek baju, karena tidak bisa menerima takdir ini.

Dan kesabaran itu letaknya pada awal hantaman.


Persiapan Finansial


Agar tidak terlalu terkejut, mungkin kita perlu memperhitungkan cadangan tabungan untuk keadaan darurat seperti ini. Bagi seorang istri (ibu rumah tangga penuh waktu) yang ditinggal suami, tentu akan terasa imbasnya, apalagi kalau tidak memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk menjadi keahlian guna menjadi penopang rumah tangga.

Memang setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing, namun tidak ada salahnya kalau kita mempersiapkan untuk keadaan-keadaan khusus, terutama seperti ini.

Saling terbuka juga mengenai nilai/kondisi hutang-piutang agar bisa diselesaikan oleh pihak yang ditinggalkan, karena hutang itu tetap diperhitungkan, meski sampai mati, dan ahli waris yang menjadi penanggungnya.


Saatnya Melanjutkan Hidup..?


Ingin menikah lagi setelah ditinggal wafat pasangan hidup? Pertimbangannya ada pada diri masing-masing pasangan.

---000---


Kota Tepian, 14 Mei 2009

Syamsul Arifin

sumber: www.warnaislam.com


Any comment?

Rabu, Mei 06, 2009

Puisi Cantik Untuk...

Puisi tercipta dari romantika kehidupan
Dan jadi kilas balik untuk kehidupan
Bacalah untuk direnungkan...

Ada saat-saat dalam hidup
ketika kamu sangat merindukan seseorang

Sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi
dan memeluknya dalam alam nyata

Semoga kamu memimpikan orang seperti itu...

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup,
pintu yang lain dibukakan

Tetapi acapkali kita terpaku
terutama pada pintu yang tertutup,

Sehingga tidak melihat pintu lain
yang dibukakan untuk kita

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki
sampai kita kehilangannya


Tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu
apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya

Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup
untuk membuatmu baik hati

Cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat
Kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi
Pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia
Dan uang yang cukup untuk membeli segalanya, he..he...

Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai
menjadi dirinya sendiri,

dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan
Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri
yang kita temukan di dalam dirinya


Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah
ketika kamu bertemu seseorang
yang sangat berarti bagimu
dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya
dan kamu harus melepaskannya


Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu
dengan beberapa orang yang salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat

Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis,
mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari,
dan mereka yang mencoba

Karena hanya mereka itulah
yang menghargai pentingnya orang-orang
yang pernah hadir dalam hidup mereka!


Cinta dimulai dengan sebuah senyuman
Bertumbuh dengan sebuah perhatian
Dan berakhir dengan sebuah tetesan air mata
Hanya perlu waktu semenit untuk menaksir seseorang
Sejam untuk menyukai seseorang
Sehari untuk mencintai seseorang, tapi
Diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang

Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan
Pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi
Jadilah seperti yang kamu inginkan
Karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan
untuk melakukan hal-hal yang kamu inginkan

Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain
Apabila hal itu menyakitkan hatimu,
sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang lain pula

Orang-orang yang paling berbahagia
tidak selalu memiliki hal-hal terbaik,

mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik
dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya,
sebab keelokan paras dapat menyesatkan

Jangan pula tertarik kepada kekayaannya
karena kekayaan dapat musnah

Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum
karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun
di beranda bersamamu

tanpa mengucapkan sepatah kata pun
dan kemudian kamu meninggalkannya
dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya...


Kiriman dari seorang sahabat.

Rabu, Desember 31, 2008

Memang Benar... Harus YAKIN!

99% Yakin Ditolak

Dulu, beberapa tahun sebelum menikah atau sekitar 1997 saya mendatangi seorang guru untuk berkonsultasi soal pernikahan. Intinya minta nasihat seputar meningkatkan kepercayaan diri agar siap menerima berbagai kemungkinan ketika melamar seorang gadis. Saya sebut berbagai karena kemungkinannya memang ada beberapa, diterima, ditolak, diam saja tanpa "Ya" atau "Tidak", dan diminta menunggu beberapa waktu tanpa kejelasan alias menggantung.

Kemungkinan pertama pasti yang diharapkan, kedua semoga Allah menjauhi kita dari malapetaka menyakitkan itu, yang ketiga juga ada untungnya ada ruginya, sebab kita punya kesempatan untuk mencari alternatif. Sedangkan keempat sama sekali tidak jelas harus bersikap seperti apa, mau cari alternatif eh tahunya diterima, tidak punya alternatif ternyata ujung-ujungnya ditolak.

Sang guru pun berkata, “Datangi gadis itu dengan keyakinan penuh…” belum sempat saya berkomentar, guru itu meneruskan kalimatnya, “maksudnya, 99% yakin ditolak,” matanya menatap tajam mencoba meyakinkan saya yang terlihat ragu-ragu dengan perkataannya.

Jujur, saya memang sering dibuat tak mengerti oleh banyak kata-katanya yang buat saya terlalu filosofis. Mungkin karena level ilmu yang berbeda, dan antara saya dan ia berada pada maqom yang tak sederajat secara keilmuan yang membuat saya sering mengerutkan dahi saat menerima petuahnya. Contohnya ya soal 99% yakin ditolak ini.

Akhirnya sang guru harus menarik nafasnya dan karena merasa iba dengan anak muda yang agak-agak telmi –telat mikir- ini ia terpaksa menurunkan level derajatnya untuk menjelaskan maksudnya. “Kalau yakin diterima itu sudah biasa, tapi begitu kamu ditolak sakit hatinya luar biasa. Cobalah isi hatimu dengan keyakinan 99% ditolak, kalau pun benar-benar ditolak sakit hatinya hanya 1% saja, kan memang sudah yakin dan siap ditolak…”

“Tapi kalau diterima… ini baru luar biasa. Bayangkan, ada orang yang yakin tidak diterima kemudian tiba-tiba diterima lamarannya. Pasti senangnya bukan main, lebih dari kebahagiaan orang yang datang dengan keyakinan diterima. Yang yakin diterima, kalau diterima itu akan biasa-biasa saja, namun kalau ditolak, wuiih… bisa sebulan nggak mau makan dan minum,” ia terkekeh-kekeh melihat saya yang mulai nyambung.

Sejak saat itu saya tak pernah ragu untuk menikah, mmm… maksudnya mengajukan lamaran, baik lamaran pekerjaan maupun lamaran kepada calon mertua agar merelakan anaknya dipinang oleh lelaki sederhana ini. Selain memang karena saya yang selalu percaya diri serta yakin perempuan akan menyesal seumur hidup jika menolak saya, ditambah petuah dari sang guru membuat kepercayaan diri saya menjulang setinggi gunung, meski belum sampai ke langit.

Jujurnya lagi, setelah hari itu pula saya sempat mengalami beberapa –seingat saya tiga kali- ditolak setengah matang (kalau mentah-mentah kesannya tidak punya harga diri sekali) oleh perempuan. Pertama, karena dia punya dua pilihan dan akhirnya pilihannya tidak memihak kepada saya. Yang kedua, cita-citanya menikah dengan pengusaha dan jelas saya bukan pengusaha. Sedangkan yang ketiga, ini lebih membanggakan bagi saya, karena alasannya justru karena dia minder melihat bio data saya yang panjangnya mirip novel setengah jadi.

Sekadar tahu saja, novel setengah jadi itu pula yang meluluhkan seorang gadis di Bogor yang ikhlas –dan bangga- menjadi isteri saya sampai hari ini.

Saya menceritakan kisah ini kepada seorang sahabat dalam perjalanan pulang dari Solo kemarin, “yakinlah 99% diterima, tapi dibarengi dengan peningkatan kualitas diri. Niscaya perempuan mana pun akan berpikir sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali sebelum menolak…” So, maju terus sobat, jangan lupa berdoa! (gaw)

Selasa, 30 Desember 2008 11:42

oleh: Bayu Gawtama

sumber: www.warnaislam.com

Mungkin Ini yang Dapat Kita Lakukan

Sebuah tulisan yang...jujur, membuat saya terharu dan ingin saya bagi untuk semuanya karena mungkin...inilah yang dapat kita lakukan.
Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.


Kami Tidak Lupa, Palestina!


Tahun 2008 ini ditutup dengan catatan kejahatan kemanusiaan oleh Israel. Dengan alasan melakukan serangan balasan (siapa yang mulai?), mereka membombardir Palestina dengan korban kebanyakan wanita dan anak-anak. Luar biasanya, dan tidak perlu heran lagi, Amerika menghimbau Hamas untuk menahan diri (dari apa?). Ibaratnya si A sudah babak belur ditonjok dijotos dibogem sama si B, lalau si C dengan enteng ngomong, eh A, tahan diri dong, gila lu ya. Padahal si B gak babak belur atau sebam sama sekali.

Kita yang berada ribuan kilometer dari tempat terjadinya perang ini, akan sulit sekali membayangkan rasanya dibom oleh perlengkapan perang berat seperti itu. Bahkan, saat ini saja, saya sedang duduk di atas kursi yang empuk di kantor saya. Langit tampak biru. Awan seputih kapas. Sungguh, sulit sekali membayang di belahan dunia lain masih ada bangsa yang mengalami penjajahan. Sulit sekali membayangkan ada negara yang tidak bisa serelatif aman dan tenteram seperti negeri kita ini. Begitu kerasnya hidup di bawah bayang-bayang penjajah, sehingga anak yang belum akil balig pun sudah menggenggam senjata.


Sulit sekali membayangkan hidup di antara desingan peluru dan dentuman bom yang mungkin saja setiap saat bisa merenggut nyawa kita sendiri. Sulit sekali membayangkan harus menjalani hidup seperti itu seperti layaknya kita yang dengan nyaman pergi pulang kantor setiap hari bagaikan rutinitas. Sulit sekali membayangkan bahwa setiap bentuk perlawanan terhadap penjajahan itu disebut sebagai aksi teroris. Untuk Indonesia, hal itu sebenarnya tidak perlu diperherankan lagi. Pada waktu jaman penjajahan Belanda, para pejuang kita yang mulia itu disebut ekstrimis (baca: teroris) oleh para penjajah. Demikian juga Palestina. Organisasi yang terbentuk sebagai badan pelawan penjajah (baca: Hamas) dicap teroris oleh Israel. Sayangnya, karena jaringan berita global berada di bawah gurita Israel, mereka semua ikut-ikutan mengecap Hamas sebagai organisasi teroris. Padahal, mereka adalah pasukan pembela diri dari penjajah. Bahkan, ada juga yang bilang bahwa batas negara Palestina tidak jelas. Dulu, saya sendiri berkeyakinan bahwa Palestina adalah negara yang tidak memiliki wilayah.


Sungguh sulit sekali untuk turut berjuang membela mereka yang terjajah di sana. Betapa enak dan empuknya kursi ini. Betapa empuk dan hangatnya kasur menunggu di rumah. Betapa enak dan lezatnya makanan yang kami makan tadi siang dan malam nanti. Walaupun bangsa Indonesia adalah bangsa yang terlahir dari bebasnya penjajahan, generasi sekarang adalah generasi yang sudah tidak memegang senjata lagi secara fisik. Tapi, kita punya hal yang lebih baik dari fisik: nurani.


Bisa apa dengan nurani? Katakan tidak pada penjajahan. Tidak satu pun negara di dunia saat ini, kecuali Amerika, yang tidak mengecam Israel. Bahkan di tingkat yang paling lemah, mereka hanya diam saja. Apa yang bisa kita lakukan? Tidak perlu terbang ke sana dan ikut berjuang. Sekali lagi, gunakan nurani. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemampuan perang mereka. Jangan lemah. Jangan dengar kata orang bahwa semua itu percuma. Tidak banyak yang memberitakan bahwa perekonomian Denmark sempat melemah ketika negara itu mengalami boikot ketika kasus pelecehan Nabi beberapa tahun lalu. Itu adalah indikator bahwa kita bisa punya kekuatan untuk membuat impact secara tidak langsung.


Yang bisa kita lakukan saat ini adalah boikot. Sekali lagi, jangan lemah. Pernah perhatikan bahwa kita menggunakan produk-produk dari produsen yang membantu anggaran Israel? Produk-produk seperti Coca Cola, MacDonalds, Nokia, Starbucks dan lain-lainnya berasal dari produsen yang dengan setia membantu Israel menjajah Palestina. Tidak ada yang menjanjikan apa pun dari kegiatan boikot ini. Ini hanyalah panggilan nurani untuk mempertimbangkan lain kali Anda membeli produk-produk tersebut. Renungkanlah sebentar. Ciri-ciri produk pendukung Israel biasanya mahal dan tidak berguna. Starbucks, contohnya. Pernahkah Anda renungkan, kenapa untuk segelas kopi yang bisa Anda bikin sendiri harganya mencapai Rp.30,000? Dengan uang 1jt rupiah, Anda bisa mendapatkan fitur yang lebih banyak dari hape lain dibanding Nokia. Itulah ciri-ciri produk pendukung Israel. Sekali lagi, saya tekankan, boikot ini bukan untuk orang yang lemah. Orang lemah akan beralasan, tidak mungkinlah, kita kan bergantung sama mereka. Silahkan saja. Tidak ada dosa di sini. Paling tidak, itu menurut saya. Tapi, bila Anda orang yang kuat, silahkan lihat daftar produk-produk yang menurut Anda tidak perlu dibeli lagi di sini: http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.html. Jangan boikot apabila Anda lemah.


Lain kali Anda menyeruput Coca Cola di MacDonalds dan kemudian duduk santai di Starbucks, nikmatilah selagi bisa. Namanya perang, akan ada yang kalah. Jangan pernah beranggapan Palestina akan kalah. Irak yang diklaim sudah dimenangi oleh Amerika saja masih mendapat perlawanan dan hingga saat ini sudah ribuan tentara Amerika tewas tanpa alasan yang jelas. Demikianlah yang terjadi apabila kedaulatan suatu negara dirampas dengan kekerasan.


Sekali lagi, lain kali Anda menyeruput Milo dari Nestle, sambil SMS-an dengan hape Nokia, ingatlah, Anda tidak dosa. Tidak perlu merasa bersalah apabila uang yang Anda keluarkan digunakan untuk anggaran perang penjajah. Anda tidak dosa. Anda hanya lemah. Itu wajar. Negeri ini memang berada ribuan kilometer dari tempat terjadinya penjajahan. Mungkin saat Anda membaca tulisan ini, Anda sedang duduk nyaman di atas perabot Marks & Spencer. Rileks saja. Tidak perlu cemas. Perang itu tidak mungkin sampai di negeri ini. Kalau pun sampai. Tenang saja. Akan ada tempat lain di mana orang-orangnya mungkin akan berkelakuan sama seperti Anda sekarang ini: santai dan rileks di tempat yang nyaman, empuk dan hangat.


Pesan saya untuk Palestina, teruslah berjuang. Maafkan kami, belum bisa menyumbang secara fisik. Tapi, kami tidak akan lupa, Palestina!


oleh Muhammad T. Wilson Rabu, 31/12/2008 07:45 WIB

Tulisan ini juga dimuat diblog http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/tanzir/2008/12/30/ka

sumber: www.eramuslim.com