Jumat, November 20, 2009

Dicari Suami Setia

Sebuah artikel saya dapat dari kompas.com publikasi Kamis, 19 November 2009, cukup menggelitik. Silakan dicermati ;)

Dicari Suami Setia


KOMPAS.com - Suami yang setia dan ikatan dengan isterinya kuat, ternyata memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Perkawinan pun bisa membuat orang panjang usia.

“Wah, sulit kalau kita dituntut untuk seperti Arief Budiman,” begitu ujar seorang budayawan yang tak perlu disebut di sini namanya.

Di antara golongan intelektual Arief bukan saja dikenal sebagai doktor sosiologi lulusan Universitas Harvard dan aktivis yang kritis. Arief juga dikagumi banyak wanita (walau tidak tampan dan flamboyan), tapi ia selalu setia kepada isterinya, Leila Ch. Budiman.

Kata budayawan tersebut, “Arief itu orang aneh kalau bukan kelainan.” Ia disebut demikian justru karena hidup lurus, bersahaja, dan tidak tergoda untuk selingkuh walau kesempatan untuk itu sangat besar.

Aktor besar yang menjadi salah satu simbol seks Amerika Serikat, Mel Gibson, juga dianggap orang aneh di dunia selebriti. Bintang yang mata birunya bisa meruntuhkan hati wanita itu, bukan cuma memilih menjauh dari kehidupan gemerlap Hollywood. Ia adalah pria yang lebih suka menghabiskan waktunya dengan isteri dan tujuh anaknya.

Sebaliknya Pangeran Charles. Dunia bahkan mengakui kecantikan dan daya tarik sosial isterinya, Putri Diana. Namun pewaris pertama tahta kerajaan Inggris itu mengejutkan dunia karena tak puas dengan yang ada, dan malah selingkuh dengan mantan pacarnya, Camilla.

Apa yang membuat orang seperti Arief atau Gibson tetap setia? Sudah pasti karena mereka memilih setia. Mengapa? Jawabnya bisa bermacam-macam. Dalam hal Arief, gagasan selingkuh tidak pernah mampir di benaknya. Karena itu dia disebut bersahaja oleh teman-temannya. Sementara Gibson yang dibesarkan secara Katolik oleh orangtuanya, telah menemukan makna hidupnya bersama keluarga, sehingga dia tidak memerlukan sensasi yang lain.

Lebih Kuat
Hidup rukun dengan isteri sebetulnya sangat menguntungkan bagi suami. “Yang hubungannya lebih kuat, akan memperoleh manfaat lebih baik,” ujar Vicki Helgeson, Ph.D., psikolog dari Carnegie Mellon University, di Pittsburgh, AS.

Kita sering mendengar ungkapan bahwa di belakang laki-laki sukses, terdapat wanita yang kuat (sayang ungkapan ini tidak atau belum berlaku sebaliknya, sebab banyak kasus wanita sukses yang justru berpisah dengan suaminya).

Tapi manfaat isteri ternyata bukan cuma mendukung supaya karir suami sukses. Helgeson memberikan bukti-bukti bahwa para pasien serangan jantung yang setia dan bisa bicara terbuka dengan isterinya, lebih sedikit merasakan nyeri dada, dan tidak mendapat serangan ulang pada tahun-tahun berikutnya.

Di Indonesia kasus-kasus kematian mendadak saat selingkuh pun cukup sering diberitakan, dan biasanya memang yang bersangkutan menderita sakit jantung.

Menurut profesor psikologi di University of Michigan Medical School di Ann Arbor, AS, James Coyne, Ph.D., pria yang mendapatkan kepuasan dalam perkawinannya, terbukti mengalami depresi 24 kali lebih sedikit dibanding yang perkawinannya retak.

Para peneliti di Ohio State University, di Amerika Serikat lagi, juga membuktikan bahwa pasangan yang sering bertengkar, melemparkan kata-kata kasar, sinis dan sarkastis, ternyata memiliki tekanan darah lebih tinggi dan sistem kekebalan tubuhnya lebih lemah dibanding yang hubungannya mesra.

Dan kesimpulan para peneliti dari National Center for Health Statistics, AS semakin menegaskan tentang pentingnya hidup rukun dan setia dengan isteri. Sebab, perkawinan yang bahagia juga terbukti membuat pria lebih panjang umur 10 tahun.

Apakah dengan demikian Arief Budiman dan Mel Gibson akan lebih panjang umur ketimbang Pangeran Charles atau pria sebaya mereka, yang selingkuh dan perkawinannya tidak bahagia? Kita lihat saja.

@ Widya Saraswati

Kamis, Oktober 29, 2009

- - -

Bingung mau memilih awal kata. Di kepala sedang banyak pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan, yang terburuk sekalipun, akibat ketidaktelitian yang telah dibuat sendiri tapi fatalnya menyangkut hajat hidup orang banyak.

Gak bisa cerita lagi...

Senin, Oktober 05, 2009

Lagi Mau Belajar

Hari ini, saya mendapat kenalan baru via online. Awalnya hanya email-email-an karena mau memesan buku. Tapi, setelah coba add di Ym, kita jadi ngobrol deh.

Ntah kenapa tiba-tiba pengen add dia di YM dan pengen kenal lebih jauh. Niatan awal ingin 'belajar'. Ya, sepertinya saya sedang ghirah untuk 'belajar'. Jangan artikan kata itu dengan duduk di bangku sekolah atau kuliah dan mendengar guru atau dosen memberi materi. Kata 'belajar' di sini artinya luas, sangat luas. Seperti yang sedang saya lakukan dengan teman baru saya ini.

Namanya Mba Wulan. Saya panggil 'mba' dengan alasan beliau sudah lebih tua dari saya (belakangan saya tahu usia beliau). Tapi, awalnya memang saya panggil dengan panggilan 'mba' karena memang kebiasaan saya menyapa orang yang belum saya kenal dengan panggilan itu. Belakangan dia bilang dipanggil nama saja, tapi saya belum terbiasa. (Maaf ya, Mba..)

Mba Wulan orang asli Indonesia, orang Jawa Timur. Tapi, sekarang dia tinggal di Jepang karena suaminya WNA dan status anaknya pun WNA. Satu hal yang membuat saya tertarik ingin mengenal Mba Wulan adalah karena beliau adalah ibu rumah tangga yang dulunya adalah wanita karir. Sekarang beliau hanya di rumah mengurus rumah dan kedua anaknya, di samping beragam aktivitasnya yang 'menghasilkan'.

Sudah 6 tahun Mba Wulan hidup berumah tangga. Berbanding terbalik dengan saya yang baru (hampir) 5 bulan. Bahkan Mba Wulan tadi sempat berujar "Wah, masih muda sekali ya". Jadi malu :)

Sekiranya...ini dulu sepotong cerita saya tentang teman baru yang saya kenal hari ini. Semoga di depan nanti banyak lagi pelajaran dan cerita-cerita dari saya tentang Mba Wulan yang bisa saya share di sini ;)

Tidak Mau Mengeluh, Sebenarnya...

Kenapa ya, akhir-akhir ini saya jadi terkesan sering mengeluh?! Padahal, dulu, sepertinya saya orang yang cukup kuat menghadapi bermacam-macam hal. Karena memang selain menjadi 1st in my family, saya pun seperti sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri dan... ya mengeluh sendiri juga. Pun kalau harus mengeluh, ya... sudah ada tempat mengeluh yang 'selalu' ada buat saya, Dia. Tapi, kenapa sekarang jadi terlalu banyak mengeluh pada orang lain, ya?! Iya kalau orang itu betah dan mau mendengar keluhan kita, kalau nggak?! Yang ada kita malah BT karena nggak ada respon yang diharapkan. Bener nggak? Alhamdulillah jika orang tempat kita mengeluh memberikan respon positif yang kita harapkan, sungguh rasanya seperti... tidak bisa saya deskripsikan ;)

Sebenarnya, apa yang saya keluhkan memang hal-hal yang sungguh ingin mendapatkan support
dari orang-orang itu. Walau... (ngaku juga) terkadang ada juga hal-hal yang nggak penting dan nggak perlu dikeluhkan. Dan ketika saya berada di posisi orang yang mendapat keluhan-keluhan 'nggak penting' itu, kok rasanya memang membosankan, ya?! Contoh, deh. Kalau ada bagian tubuh kita yang sakit, lantas kita mengeluh pada orang yang kita percaya, boleh nggak? atau mungkin pertanyaannya, salah nggak? Tapi, kalau sakitnya ternyata tidak terobati lantas ingin mengadu terus dengan orang tersebut, salah nggak? boleh nggak? Dan sekali lagi, jika menilik dari posisi orang yang dikeluhkan, membosankan nggak ya?

Apakah saya harus memilih dan memilah hal-hal yang bisa saya keluhkan?
Apakah saya juga harus memilih dan memilah orang-orang tempat saya mengeluh? Sesuai dengan tema, begitu?
Apakah memang mutlak kebenarannya bahwa jika seseorang itu mengeluh berarti itu pertanda kalau ia tidak bersyukur? Ya Allah... berarti, berapa banyak ketidaksyukuran saya hanya untuk point 'mengeluh' ini ya?!

Belajar bersyukur dan mengurangi mengeluh, yuk! Bismillah... ;)

Rabu, September 23, 2009

Kembali Lagi...

Waahhh....kalau lihat tanggal tulisan terakhir di blog ini, rasanya (agak) malu karena sudah lama tidak lagi mengeluarkan isi kepala sekaligus merupakan isi hati. Kembali mengulang masa lalu, berhenti menulis karena berbagai alasan. Hmmm...banyak alasan aja! :)

Ya, sepertinya...sejak kepergian "sayang kecil", semuanya jadi 'blank', seperti tidak bernafsu juga mengeluarkan cerita-cerita lagi. Waktu luang siy ada aja, hanya kurang dimanfaatkan saja. Padahal, dulu waktu "sayang kecil" belum ada juga masih banyak hal yang bisa ditulis. Iya ngga? (Jadi malu...) Banyak episode-episode hidup yang di-create oleh Dia yang bisa kita tuangkan dalam bentuk banyak tulisan, kenapa cuma karena kepergian "sayang kecil" lantas mematiikan potensi diri?! Hhhh...

Ikhlas. Ya, kata suami saya belajar ikhlas itu sulit. Saya mungkin merasakannya juga saat "sayang kecil" pergi. Awalnya siy...(sok) tegar, tapi akhirnya 'tumpah' juga. Semua sudah kehendak-Nya. Kita (manusia) hanya diperintahkan untuk ikhtiar dan berdo'a, selebihnya, bukan urusan kita, betul?! :) Semoga di kesempatan terbaik-Nya nanti, akan ada yang terbaik untuk diberikan kepada orang-orang terbaik. Subhanallah. Amiin.

Pekerjaan...kalau inget kerjaan, jadi inget hari Senin nanti saya masuk kantor dengan banyak pekerjaan yang menanti. Rasanya jadi ingin libur terus, tapi tetap dapat gaji. (Ups! itu kalimat yang suka dilontarkan oleh suami saya. :P) Tapi, kalau diinget-inget, kangen juga dengan kantor, dengan teman-teman kantor (ada ummi-nya "sayang kecil", ada mbak QQ yang kemaren libur duluan, dll.), dengan kerjaan-kerjaan kantor (hmm...are you sure???).

Sepertinya...udahan dulu deh, see you in another moment. ;)

Selasa, Juli 28, 2009

Cepat Pulang Cepat Sholat, Lambat Pulang Lambat Sholat

Itulah fenomena yang sering terjadi di sekitar kita. Bahkan saat ini, saya sedang peka terhadap kasus yang satu ini di kantor saya sendiri.

Bulan ini, jam pulang kantor dimajukan dari pukul 17.00 menjadi pukul 16.00. Walhasil, waktu sholat ashar yang mendekati pukul 15.30 menjadi ramai jama'ah di mushola. Bahkan, orang-orang menjadi kejar-kejaran dengan waktu pulang kantor. Subhanallah, saya menjadi senang karena banyak kelompok jama'ah yang bisa saya ikuti.

Tapi, perbedaan mencolok yang terjadi di hari Jum'at, di mana jam pulang kantor pukul 16.30. Antrian dan keramaian orang-orang yang berbondong-bondong ingin menunaikan sholat ashar mulai tak ada. Apalagi di pekan ini yang jam pulang kantor sudah kembali seperti semula, pukul 17.00, perbedaan itu terasa sekali, sama halnya dengan bulan-bulan sebelumnya. Rasanya, mencari jama'ah untuk sholat begitu sulit. Kalau sudah tertinggal dari orang yang biasa sholat di awal waktu, bersiaplah untuk menunggu sampai pukul 16.00 lewat baru mendapatkan jama'ah kembali.

Sungguh miris, ya...

Sabtu, Juli 25, 2009

'Sayang Kecil' Hadir

AlhamdulillahiRabbil'alamin...
Sebuah karunia sekaligus bukti kebesaran-Nya telah Ia turunkan. Setelah beberapa hari yang lalu, Ia memberikan surprised-Nya secara perlahan-lahan, akhirnya tadi malam Ia memberikan keseluruhan surprised-Nya. Rasa haru sekaligus kaget ditambah gemetaran.

Beberapa hari belakangan, Mama, Mas-ku, dan sahabatku Ika selalu mendorong untuk melakukan tes urine. Akhirnya, setelah dilakukan 3 kali tes, hasilnya masih negatif. Di bulan ini, saya melakukan 4 kali tes dan hasilnya (sebenarnya) masih kurang meyakinkan. Nah, dari 4 kali tes itu, 2 test terakhir akhirnya menunjukkan sebuah tanda kepastian bahwa di dalam rahim ini telah Ia titipkan seorang buah hati untuk hadir di rumah kami beberapa bulan ke depan, insya Allah. Kepastian itu pun mencapai puncaknya tadi malam saat memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah di USG 2 kali, terlihatlah sebuah benda asing di dalam rahim saya. Benda asing yang akan tumbuh dan menjadi buah hati kami semua. Belum terlalu besar, memang, makanya dokter sampai melakukan USG 2 kali. Sampai saat USG Intip (seperti itu istilahnya) baru ketahuan ada sebuah sel (mungkin) sebesar bakso.

Rasa tak percaya muncul ketika dr. Koesmaryati, Sp.OG (dokter tempat saya memeriksakan diri) mengatakan bahwa usia si 'sayang kecil' (panggilan kami untuk si jabang bayi) sudah 4 minggu. Hah! Padahal hasil tes positif baru ditunjukkan dalam waktu 1 minggu terakhir, tapi dokter menghitungnya dari tanggal haid saya yang terakhir (padahal haid saya tidak teratur). Ya sudahlah, yang penting, 'sayang kecil' tumbuh dengan sehat. (Ya, sayang ya...).

Rasa senang juga tidak dapat dipungkiri malam itu. Selain mendapat kabar yang telah lama dinantikan kepastiannya, saya sangat senang karena tadi malam ditemani oleh 2 orang yang saya sayangi. Suami dan sahabat saya. Kurang 2 orang sebenarnya, saya ingin ada Mama dan adik saya saat itu. Tapi, tidak mengapa. Sepulang dari RS, saya langsung memberitahu 'tante' dari keponakannya nanti. Betapa histerianya ia, terbukti dengan suara teriakannya yang melengking di telepon. Saya dapat membayangkan batapa bahagianya ia. Semoga kabar gembira ini bisa menghilangkan stressnya menghadapi banyak tugas kuliah SP-nya. Amiin. Mama sebenarnya sudah yakin di tes yang ke-3, pemeriksaan ke dokter ini dalam rangka memastikan semuanya.

Hmmm...
Saya bingung mau melanjutkan tulisan ini. Rasa amazing itu masih menggelayuti pikiran. Dalam sekejap, perut ini akan membuncit, bukan pertanda kebanyakan makan juga atau karena berpenyakit, tapi karena seseorang yang mendiami rahim.


Ya Allah... Alhamdulillah, terima kasih, sujud syukur hamba atas karunia-Mu ini. Rasa syukur ini rasanya tak pernah cukup terucapkan dari bibir ini. Bimbing dan beri hamba petunjuk agar bisa menjaga amanah-Mu ini dengan baik ya, ya Allah. Tidak hanya ketika dia di dalam rahim, tapi juga saat dia keluar ke dunia nanti. Semoga semua syari'at-Mu bisa hambar ajarkan padanya agar ia selalu ingat pada-Mu. Amiin.

Selasa, Juli 21, 2009

Kejutan-Nya Datang Perlahan

Ketika Allah akan memberikan sebuah 'kejutan' untuk hamba-Nya, bisa jadi tidak datang secara langsung (full), tapi perlahan-lahan, bahkan terkadang membuat kita menjadi penasaran. Terdengar aneh, ya? Tapi, saat ini saya merasakannya seperti itu. Menurut saya, (mungkin) Allah ingin menguji hamba-Nya sabar atau tidak, niy.. :)

Saya pernah membuat sebuah tulisan bahwa saya suka dan senang memberi surprised dan senang jika diberi surprised. Tapi, (di tulisan itu saya bilang) saya tidak suka yang setengah-setengah, artinya membuat orang penasaran. Ternyata, kali ini, saya seperti sedang merasakan apa yang saya tidak suka itu. Ya, saya sedang merasa akan diberi surprised oleh-Nya secara perlahan-lahan, seolah-olah ada rasa penasaran karena surprised itu memang belum ketahuan jelas. Mungkinkah memang karena Dia ingin menguji kesabaran saya atas surprised itu?

Semoga diri ini tetap bisa bersabar sampai 'saat itu' tiba karena saya yakin 'saat itu' adalah saat terbaik dari-Nya :)

Kakak-Adik, Suami-Istri

Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk menjawab pertanyaan dari ilustrasi yang saya berikan.

Dalam sebuah keluarga, antara kakak-adik pasti tidak selamanya akur. Ada pertengkaran dan permusuhan, kadang-kadang. Itu semua lumrah. Jika suatu ketika, Anda sebagai kakak tiba-tiba terbangun dari tidur, lalu menyuruh adik Anda untuk mengambil minum. Saat itu Anda sebenarnya bisa bangun untuk mengambil air minum sendiri, tapi Anda justru meminta adik Anda yang mengambilnya padahal saat itu dia sedang tidur dengan pulas.

Ada kemungkinan, adik Anda akan menolak mengambilkannya karena dia tahu bahwa Anda punya kemampuan untuk mengambilnya sendiri. Lagipula, dia sedang enak-enaknya tidur, tapi Anda malah membangunkannya hanya untuk mengambil minum. Jika Anda orang yang keras, Anda akan tetap keukeuh (kata orang Sunda) memaksa untuk diambilkan minum oleh adik Anda. Ternyata, karakter adik Anda juga keras, dia pun keukeuh untuk tidak mau mengambilkan minum untuk Anda.

Apa yang terjadi? Saya juga tidak bisa menebak akhir dari sepenggal cerita di atas. Anda bisa? Silakan menebaknya :)

Saya akan berikan pertanyaan selanjutnya. Jika kedua adik-kakak itu saya ganti dengan suami-istri. Di mana si suami yang baru bangun tidur tiba-tiba merasa haus dan minta diambilkan air minum oleh istrinya yang (juga) sedang tertidur pulas. Apa pendapat Anda? Akankah ada kekerasan juga di peristiwa yang kedua ini?

Silakan Anda jawab dan pahami sendiri, ya :) (karena saya juga sedang berusaha mendapatkan hikmah dari peristiwa itu)

17 Juli, Tanggal Bersejarah

Kita semua tahu, sebuah tanggal dikatakan bersejarah jika di dalamnya terjadi sebuah peristiwa yang (mungkin) bisa dibilang heboh, ada sebuah prestasi di tanggal tersebut, ada peristiwa menyangkut orang penting, dan yang sejenisnya dan arahnya ke kutub positif.

Tanggal 17 Juli. Ya, tanggal itu merupakan tanggal bersejarah untuk kedua orang tua saya karena di tanggal itu buah hatinya yang pertama lahir ke dunia dengan selamat. Tanggal itu tak akan pernah dilupakan oleh mereka. Saya sendiri, sang buah hati pertama itu, juga tidak pernah melupakan tanggal itu. Kecuali, suatu ketika nanti saya sedang sibuk-sibuknya sampai benar-benar lupa tanggal :)

Bagi negara Indonesia tercinta ini, tanggal itu juga ada maknanya. Jika kita melihat ke daftar tanggal-tanggal bersejarah, akan ditemukan sebuah peristiwa di tanggal 17 Juli (tapi saya belum ketemu tahunnya berapa). Ya, di tanggal itu terjadi peristiwa integrasi Timor-Timur ke wilayah Indonesia. Peristiwa bersejarah? Iya, jelas.

Sekarang, ada peristiwa terbaru yang terjadi di tanggal yang sama, 17 Juli 2009. Saya tidak tahu apakah peristiwa yang baru saja terjadi ini bisa dikatakan sebagai sejarah atau tidak. Yang jelas, Sejak peristiwa itu terjadi, tanggal 17 Juli seringkali disebut-sebut. Berarti, peristiwa di dalamnya termasuk sejarah, dong?! Ya, di tanggal 17 Juli 2009, terjadi sebuah heboh yang mengguncang negara, bahkan juga mengguncang dunia. Terjadi peristiwa pemboman di dua hotel terkenal, termewah, termegah di Indonesia, atau bahkan di dunia.

Kedua hotel tersebut adalah JW Marriott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Daerahnya mendekati daerah tempat suami saya bekerja, walaupun dinyatakannya bahwa tidak dekat-dekat banget. Kedua bom yang meledak di pagi hari itu menewaskan (berapa ya...?) 9 orang dan melukai 53 orang yang di antaranya ada WNA juga. Hmm...cukup tragis.

Sudah lewat 4 hari. Jika diibaratkan bayi, mungkin masih ada merah-merahnya kali, ya, di usia itu (maaf, saya hanya bisa menduga karena belum pernah punya bayi :)). Kembali ke topik awal, sudah lewat 4 hari dan sekarang giliran pihak kepolisian yang bekerja ekstra (bukan lagi kerja keras) untuk menyelidiki dan mengungkap pelaku pengeboman yang banyak disebut sebagai bom bunuh diri.

OK, untuk bapak-bapak pihak berwajib, semoga kerja ekstra-nya membuahkan hasil dan segera bisa menangkap pelaku pengeboman itu agar rakyat bisa tenang.
Semangat ya, Pak! :)

Jumat, Juli 17, 2009

Because She is My Lovely Mom

Awalnya merasa sulit untuk merangkai kata-kata di tulisan ini. Judul di atas pun seolah-olah berkelebat dan langsung dijadikan judul. Sepertinya, sosok seseorang yang jasanya tak pernah terbayarkan oleh apa pun di dunia ini tak akan bisa digambarkan oleh berjuta-juta kata. Cukup di dalam sini (sambil nunjuk ke arah hati) yang bisa merasakan.

Hari ini, di 26 tahun yang lalu, seseorang sedang berjuang melawan maut demi melahirkan seorang bayi mungil dengan selamat ke dunia fana ini. Mungkin sampai detik ini, diri ini hanya bisa merasakannya lewat tulisan-tulisan yang dibaca dan pembicaraan-pembicaraan yang didengar tentang betapa sulitnya masa-masa melahirkan. Tapi, cukup sampai detik ini saja saya sudah merasakan betapa agung sosok itu. Apalagi jika suatu saat nanti, insya Allah, Dia mengizinkan diri ini berada di posisinya 26 tahun yang lalu. Mungkin rasa sayang itu akan semakin semakin semakin bertambah bertambah bertambah...

Mom... Saya tahu, beliau bukan sosok yang selalu 'ngemong' anak-anaknya. Anak-anaknya dididik dengan ketegasan, kecerewetan, kemandirian sampai jadi seperti ini, saya dan adik saya. Saya pernah merasa iri dengan teman-teman yang bisa bicara manja dengan mama mereka. Benar-benar iri saat itu. Tapi, ternyata di lubuk hati terdalam, she is my mom, my perfect mom, always.

Mama... Saya tahu, beliau bukan sosok seseorang yang bisa selalu berkata 'manis' dengan kami, anak-anaknya. Tapi, satu hal yang saya tahu dan itu pasti, bahwa semua kata-katanya adalah isi hatinya yang terdalam dan ungkapan rasa sayangnya kepada kami, saya dan adik saya.

Hari ini, ucapan "selamat ulang tahun" terindah saya dapatkan saat beliau menelepon tadi siang. Bukan ucapan dengan nada 'ngemong', bukan ucapan dengan nada 'manis', tapi...apa yang tadi terdengar cukup membuat airmata ini kembali (lagi) tak tertahankan.

Mendengar ceritanya susah payah mencari sebuah selimut yang memang pernah beliau usulkan untuk saya beli, rasanya sedih. Membayangkan seberapa susah payahnya beliau membawa selimut dengan ukuran yang... pasti kita semua bisa membayangkannya, dengan belanjaan-belanjaannya yang lain, naik ojeg. Padahal saya baru berencana untuk pergi membelinya saat weekend nanti. Tapi... telah ada seseorang yang dengan susah payah dan rela melakukan itu semua.

'Tuk Mama...
Terimakasih untuk semuanya, ya... Always love you.
(Rasanya ada sesuatu tak tertahankan lagi di kelopak mata ini)

Today is A Surprised Day

Happy Birthday...
Ucapan itu saya berikan untuk diri saya sendiri. Ups, PD bener, ya?!

Hari ini, saya merasa begitu banyak orang yang sayang sama saya (dari dulu juga siy...). Tak terkecuali Yang Maha Penyayang, Allah SWT. Oleh karena Dia lah, saya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Pastinya, semua ini tidak sampai membuat diri lupa akan bentuk syukur nikmat yang telah Dia berikan.

Pagi ini, tepatnya dini hari pagi tadi, kira-kira jam dua pagi, laki-laki yang terbaring di samping saya tiba-tiba bangun dan membangunkan saya juga dengan memberikan ucapan selamat hari lahir plus kecupan di pipi. Saya yang masih merem-melek sedikit kaget, tapi rasa senangnya tetap ada. Setelah itu, mata ini tidak lagi bisa dipejamkan. Belum selesai sampai di situ. Ketika saya membuka laci lemari baju, saya dikejutkan lagi dengan setangkai bunga mawar (hidup, bukan plastik :)) dan sebuah kartu ucapan berbingkai merah, semerah warna mawarnya. Mungkin setelah membacanya, wajah saya juga ikutan berwarna merah (iya ngga, Mas?)

Kira-kira menjelang adzan subuh, sahabat saya sebagai orang yang 1st sms memberikan ucapan milad juga. Senangnya bertambah lagi. Belum selesai sampai di situ. Saat saya "nyamper" sahabat saya itu di rumahnya untuk bersama-sama berangkat ke kantor, saya kembali mendapat kejutan di sana. Sebuah "short message service" yang cukup membuat saya terharu. Linang airmata pun tak terbendung di sana, sebuah tangis bahagia. Pelukan hangat pun tak terelakkan. (Makasi ya, Ka... :))

Selain itu semua, bahkan sebelum itu semua, ada seseorang yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan sebuah hadiah terindah untuk saya, bahkan mungkin bukan hanya hari ini, melainkan everyday adalah hadiah. Jika orang lain tak menganggap itu sebuah hadiah, tapi bagi saya itu adalah hadiah terindah. Sudah beberapa hari yang lalu, my mom bertanya tentang cara membuat pasta (spagheti). Setelah bertanya, keesokan harinya ternyata mama bukan memasak itu. Sampai hari ini, ketika makanan itu sedang dipersiapkan di dapur dengan aroma pasta khas yang sudah saya kenali, saya tahu untuk apa pertanyaan-pertanyaan mama kemarin itu. Ups, saya kok jadi pengen nangis lagi, sekali lagi, tangis bahagia, karena begitu banyaknya orang yang sayang pada saya. Alhamdulillahirrabbil'alamin...

Saat di kantor, selepas sholat dhuha, saya mendapati 1 missed call dan 1 sms di ponsel saya. Rupanya my dad, dengan ucapan selamat ulang tahun-nya. Tak lama berselang, seorang teman yang dulu dekat dan sekarang telah jauh (tempat tinggalnya, maksudnya) mengirimkan sebuah sms berbahasa inggris yang indah. Tak lama pula, saat saya dipanggil oleh manager untuk sebuah proyek pembuatan produk baru dengan sponsor salah satu merk susu terkenal, ponsel saya berdering. Saya mendengarnya tapi tak bisa bergeming. Ternyata, setelah dari ruang manager, saya mendapati kembali 1 missed call 'n 1 sms, dari adik ipar saya dan suaminya yang memberikan ucapan 'met hari lahir dan do'a yang semoga dengan di-amin-kannya do'a itu, sampailah do'a tersebut kepada Sang Maha Mengabulkan Do'a. Amiin ya Rabbal'alamin.

Ada satu hal yang tiba-tiba terpikirkan di sini (sambil nunjuk ke arah kepala), di mana ya, saudari-saudari lain yang dulu mengirimkan ucapan-ucapan milad di awal-awal waktu. Mungkinkah karena sekarang kami tak lagi bersama-sama? Mungkinkah karena kami sudah jarang bersua? Mungkinkah mereka lupa? Atau...mungkin saya yang melupakan mereka lantaran tidak juga ingat saat mereka milad??? (Ampuni hamba, ya Allah...)

The last for this writing...
Sejak pagi tadi, ntah kenapa diri ini seolah-olah sedang menungu sebuah keajaiban dari-Nya. Keajaiban yang hanya Dia yang tahu. Semoga keajaiban itu kan menjadi nyata, suatu saat nanti. Maybe today, tomorrow, the day after tomorrow, next day, next week, next month, next two months,
next three months...
Amiin ya Rabbal'alamin.

Kamis, Juli 16, 2009

Surprised Day (Part-2)

Hari ini, di tanggal yang sama dua bulan yang lalu, ntah apa yang sedang terjadi. Jika bukan karena kehendak-Nya, tidak akan ada hari di tanggal 16 Mei 2009. Atau lebih tepatnya, tidak akan ada moment apa-apa di tanggal itu jika bukan karena-Nya. Subhanallah...

Hari ini, tepat dua bulan yang lalu, telah terjadi sebuah ikatan suci, sebuah ikatan kokoh yang insya Allah hanya akan dapat dipisahkan oleh-Nya karena Dia-lah yang menyatukan kami. Ada sebuah pernikahan di tanggal ini, dua bulan yang lalu. Pernikahan dua orang yang dijadikan satu dalam sebuah ikatan. Jika harus mengatakan "tidak pernah terbayangkan sebelumnya" mungkin kurang tepat juga. Tentunya kita semua pernah membayangkan berada pada hari itu sebagai seorang ratu tercantik, berdiri di samping seorang pria yang (menurut kita sendiri) paling tampan sedunia. Sesederhana apa pun bayangan itu, yakinlah bahwa pada saat itu, hanya ada satu ekspresi yang bisa digambarkan, bahagia.

Hari ini, saya mendapat surprised dari pria paling tampan sedunia itu. Setelah sebelumnya saya "menyanyi" lebih dahulu di sampingnya sambil ia membuka contekkan (sebenarnya ia sudah lebih dulu bisa "menyanyikan" lagu itu). Lalu, ia minta gantian. Kami pun berubah posisi, saya mendengarkan "nyanyiannya" dengan saksama. Dua setengah lantunan surat ia tuntaskan. Ada rasa iri di hati ini. Ya, bagaimana tidak iri, dulu saya yang duluan menghafal lagu A baru diikuti olehnya, tapi ternyata justru saya yang belakangan baru hafal. Ditambah, bukan satu tapi hampir tiga surat ia "nyanyikan". Bertambah iri lah saya.

Hafalan tadi semoga jadi hadiah untuk kami berdua, di usia pernikahan yang ke-2 bulan ini :)

NB.
Semoga ada tambahan surprised hari ini, dari siapa pun :)

Sebuah Kata, "Cerewet"

Bermula sejak tadi malam. Saya dan suami membahas tentang pemahaman kami terhadap kata 'cerewet'. Rupanya kami punya pemahaman yang berbeda. Cukup jadi diskusi yang panjang tadi malam, bahkan sampai mata ingin memejam.

Pemahaman suamiku, jika seseorang dicerewetin berarti ia melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Dengan kata lain, orang itu tidak mengambil pelajaran(hikmah) dari kesalahan yang pernah dilakukan sehingga mendapatkan 'cerewetan' lagi bahkan dari orang yang sama. (Benar begitu ya, Mas?) Sedangkan saya sendiri memahami makna cerewet bahwa jika seseorang dicerewetin berarti orang yang mencereweti kita ada perhatian dengan kita. Perhatian, satu kata itu memiliki berjuta makna. Siapa yang tidak mau diperhatikan oleh orang lain. Ada yang bilang perhatian itu tanda sayang. Betul ngga, ya?!

Misalnya, jika kita berbuat sesuatu yang salah dan ditegur, itu tandanya orang yang menegur kita perhatian dan ingin agar kita tidak melakukan perbuatan salah itu. Jika ternyata di lain waktu kita melakukan hal (kesalahan, red.) yang sama dan ditegur dengan orang yang sama, itu berarti orang itu masih menaruh perhatian dengan kita dan selalu ingin mengingatkan kita bahwa hal yang kita lakukan itu salah. Sampai akhirnya, ada harapan terselubung dari orang yang menegur kita itu bahwa suatu ketika nanti kesalahan itu tak dilakukan lagi di lain waktu. Ada harapan pembelajaran di sana. Secara logika, tidak ada orang yang mau dicerewetin seumur hidup dan tidak ada juga orang yang bisa mencereweti seseorang terus-menerus seumur hidup. Deal?

Tapi, bukan berarti orang yang sudah tidak mau mencereweti kita lantas sudah tidak mau perhatian kepada kita lagi. Cerewet itu hanya suatu bentuk perhatian, jangan digeneralisasi, ya :)


NB.
Buat Mama, terimakasih karena sejak kecil sudah cerewet kepada anak-anaknya. Dengan cerewet Mama itu, anak-anaknya kini bisa menjadi 'baik'.

Rabu, Juli 15, 2009

Surprised Day

Hah!!! :-O (dengan mulut terbuka menganga dan mata membelalak)
Itu ekspresi saya saat pagi ini melakukan sesuatu yang memang sudah saya jadwalkan sejak semalam. Apakah itu? Menimbang badan.

Memang, sudah beberapa hari belakangan, saya merasakan ada yang berubah dengan badan saya. Hal yang paling saya rasakan adalah sempitnya pinggang rok-rok yang saya pakai. Saya pikir lantaran hanya karena sehabis makan saja makanya pinggang rok terasa sempit, tapi ternyata sejak pagi mau berangkat ke kantor pun saya sudah harus melonggarkan pinggang rok saya itu.

Sahabat saya pun merasakan ada yang berubah dari penampakan fisik saya. Bahkan dia juga sempat bercanda bahwa ban motornya jadi kempes lantaran berat badan saya yang sudah bertambah :) Ada-ada saja. Teman lain di kantor pun mengatakan pipi saya terlihat lebih tembem. Suami juga pernah meminta saya untuk menimbang berat badan karena dirasa ada yang berubah pada diri saya. Tapi semua itu tidak saya pedulikan karena saya masih merasa fine-fine saja dan berpikir "Mana mungkin berat badan saya naik. Bukannya kalau sudah menikah, yang jadi gemuk itu sang suami, bukan istri." Sampai akhirnya, tadi malam, saya ceritakan tentang sempitnya rok kepada my mom (karena hampir semua rok saya adalah jahitan tangan beliau). My mom pun menyuruh saya menimbang berat badan. Lalu, di ponsel saya buat reminder untuk menimbang berat badan keesokkan harinya (pagi ini, red).

Hah!!! Benar, perkataan semua orang-orang itu benar. Berat badan saya naik, tidak tanggung-tanggung, naik 2 kg. My mom sampai terheran-heran. Suami pun terlihat begitu gembira, berlawanan dengan terheran-herannya my mom. Tak ayal, sahabat saya pun girang sekali begitu saya beritahu berat badan saya naik 2 kg. Saya yang punya badan saja masih terheran-heran merasa tidak percaya.

Dalam jangka waktu 2 bulan sejak menikah, saya sudah menaikkan berat badan 2 kg. Bagaimana nanti, ya?! Memang, beberapa hari belakangan, nafsu makan saya memang melebih hari-hari sebelumnya. Saya pun merasa heran sendiri kenapa bisa begitu. Tapi, semua saya jalani biasa saja. Dan ternyata, memang ada imbasnya. Sungguh surprised!

Hah!!! :-O

Selasa, Juli 07, 2009

"Skenario" Akan Terus Berjalan

Sang Pembuat Skenario, Sang Sutradara akan selalu memutar episode-episode kehidupan yang tidak akan pernah berhenti. Semua scene akan terus berjalan, bergantian, bertukar tempat, dan semuanya berjalan dengan harmonis, tanpa kejanggalan. Karena Sang Sutradara Mahasempurna, tanpa cela.

Sudah lama tidak mengisi 'kehidupan' di blog ini. Saat sekarang mengisi langsung menuju ke titik yang 'berat' (mungkin). Tapi, semoga saja tidak karena semata-mata tulisan ini pun mewakili isi hati yang beberapa hari ini sedang berusaha menyadari bahwa "skenario" akan terus berjalan.

Sebagai pemain dalam 'drama' kehidupan, kita tidak bisa protes macam-macam atas apa yang dititahkan oleh Sang Sutradara, apalagi mau protes dengan Sang Pembuat Skenario. Sang Sutradara yang sekaligus Penulis Skenario memiliki hak mutlak untuk mengatur para 'pemain' untuk tunduk pada aturan-Nya. Dan satu hal yang pasti, semua 'aturan' itu pasti baik, karena Dia tahu yang terbaik.

Sampai di sini, tulisan ini terlihat berputar-putar tanpa inti yang jelas, ya? Coba dilanjutkan dulu.

Sampai detik ini, tiba-tiba, saya menyadari bahwa semua "skenario" yang telah Allah tetapkan begitu indah, sangat indah. Nikmatnya tidak terkatakan, hanya bisa bersyukur, bersyukur, bersyukur, tanpa batas. Bahkan di tengah sebuah kesulitan pun, Dia tetap memberikan nikmat yang tak tergantikan, dengan apa pun.

Kadang-kadang ingin menangis, kenapa diri ini selalu banyak menuntut dari-Nya. Padahal, nikmat-Nya sudah tak terhitung lagi. Betapa serakahnya saya. Apalagi, saya hanya seorang hamba yang hina penuh dengan dosa. Mungkin belum semua titah-Nya saya jalankan dengan ikhlas, tapi saya sudah menuntut macam-macam dari Sang Pemberi titah.

Satu hal terakhir yang ingin saya tuliskan di sini. Perjalanan hidup masih sangat panjang. Pun jika hanya tinggal 1 hari saja hidup ini, itu pun waktunya akan panjang. Pun jika hanya tinggal 1 menit, itu akan sangat panjang. Jangan pernah berpikir bahwa kau hidup sendiri. Di luar sana banyak orang-orang yang secara fisik hidup sendiri, dan kesendirian itu telah membuat mereka 'sakit'. Di luar sana, banyak orang-orang yang membutuhkanmu, berjalanlah bersama mereka, bersama-sama, tentunya. Samakan langkah kalian, samakan tujuan kalian. Ingat, "skenario" akan terus berjalan, manfaatkan waktu-waktu yang ada dengan melakukan titah-Nya dengan sebaik mungkin. Jadikan diri berguna untuk sekitar.

(terlihat betapa amburadulnya tulisan ini :). semoga para pembaca berkenan :))

Rabu, Juni 24, 2009

Do'anya yang Kompak

Ada satu permintaan yang saya lontarkan kepada suami di detik-detik menjelang hari miladnya beberapa hari yang lalu. Entah ia sadar atau tidak (ehm..Mas sadar ngga?), sebenarnya saya meminta itu memang lantaran menjelang hari miladnya. Sebuah 'surprised' kecil menuju ke 'surprised' berikutnya.

Selepas sholat maghrib, selesai berzikir, saya memintanya untuk memimpin do'a bersama dan saya akan meng-amin-kannya. Suami saya merasa aneh dan terheran-heran, tapi setelah itu tetap ia lakukan permintaan saya itu. Semua do'a yang ia lontarkan berbahasa Arab, saya mengerti, tapi tidak semuanya saya pahami. Tadinya saya pikir ia akan berdo'a juga dalam bahasa Indonesia, tapi ternyata tidak. Katanya, semua permintaan dan do'a sudah terangkum dalam do'a-do'a dalam bahasa Arab tadi, khususnya di penutup do'a.

Saya mendapatkan inspirasi tentang do'a bersama itu dari guru ngaji saya saat saya ngaji hari Ahad pagi. Kata beliau, suami-istri do'anya mesti kompak, biar diijabah sama Allah, candanya. Tapi, saya pikir, mungkin aja ada benarnya, walaupun saya tidak terlalu mempercayainya. Bukankah do'a yang dipinta oleh banyak orang maka bisa lebih makbul, pikir saya. Makanya, saya meminta suami untuk memimpin do'a waktu itu supaya isi do'a kami sama dan Allah berkenan mengabulkannya.

Selasa, Juni 16, 2009

Pagi Ini...

Pagi ini...
Seperti biasa, saat saya memakai jilbab di depan cermin, suami selalu memerhatikan saya. Dia melihat step2 saat saya memakai jilbab. Sepertinya dia (memang) sedang menghafal step2 itu karena saya pernah bilang kalau adik laki2 teman saya pernah memakaikan jilbab tetehnya dan hasilnya rapi. Dia seperti tertantang untuk bisa melakukannya pada istrinya sendiri.

Pagi ini...
Habit itu kembali dia lakukan. Bahkan, untuk pagi ini, dia membawakan peniti saya di tangannya agar saya tidak bolak-balik ke meja tempat saya menaruh peniti yang jaraknya agak jauh dari cermin. Tak lama, dia melihat di antara peniti-peniti itu belum ada bros-nya. Lalu, dia mencari kotak tempat saya menyimpan bros dengan maksud mau memilihkan bros untuk saya yang match dengan jilbab/baju yang saya pakai. Setelah menemukan kotaknya (yang saya bantu juga karena dia tidak tahu tempatnya), dia langsung memilih bros yang sesuai. Namun, karena saya juga tidak terlalu hafal dengan warna yang ada dalam koleksi bros saya, dan seingat saya tidak ada warna yang match dengan baju yang sedang saya pakai, saya katakan agar memakai warna yang netral saja, silver. Akhirnya, dia memilihkan sebuah bros yang... (apa yang harus saya katakan) sebenarnya sudah lama sekali tidak saya pakai. Selain karena warnanya sudah pudar, saya pun sudah hampir melupakan bros itu. Padahal dulu, teman-teman mengatakan bros itu cantik, bentuknya kupu2 dengan aksen timbul seperti ada berliannya. Bros itu pun saya terima dan saya pakai dengan senang hati. Dalam hati berujar, "bros ini pilihan suamiku".

Pagi ini...
Jadilah, pagi ini saya memakai bros yang sudah lama tak pernah dipakai. Bros kupu-kupu pilihan Mas-ku. Tiba-tiba saja saya jadi kangen sama bros ini. Sedang coba mengingat-ingat bros kupu-kupu ini dulu beli di mana atau dari siapa ya...?

Pagi ini...
Makasih ya, Mas :)

Rabu, Juni 10, 2009

Jangan Mengharap Pada Makhluk

Berharap pada makhluk hanya akan mendatangkan kesedihan saat kau tidak mendapatkannya. Makanya jangan mengharap pada makhluk. Kita tidak pernah tahu kesibukan yang dijalani oleh orang-orang yang kita 'harapkan' akan menolong kita saat kita sedang membutuhkannya. Dan ketika orang yang kita harapkan benar-benar sibuk dan tidak bisa kita harapkan, kita akan kecewa. Tapi, itu memang hak dia.

Sebaliknya, berharaplah hanya pada Allah. Karena Ia tidak akan pernah sibuk. Ia akan selalu ada untuk hamba-hamba-Nya dan selalu mendengar keluh kesah hamba-hamba-Nya. Bahkan isi hati yang terkadang kita tidak tahu, Allah tahu. Saat kita meminta untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita, Allah selalu ada dan tahu jawabannya. Walaupun bukan datang langsung dari-Nya, tapi bisa saja datang dari orang lain yang tidak kita sangka. Atau mungkin...Allah datangkan 'seseorang' yang sebelumnya kita 'harapkan'. See?

Tulisan ini terkesan berantakan. Mungkin karena tidak lagi memikirkan alur, tapi hanya mengeluarkan semua-semua-semua yang ada di kepala secara spontan. Akhirnya, menjawab tulisan No Titled-2, ada yang bisa dirangkai, ada yang bisa diluapkan, ada yang bisa dideskripsikan. Akhirnya... :)

(No Title-2)

Banyak kata-kata yang ingin dikeluarkan dari kepala ini,
tapi sulit sekali merangkaikannya
Banyak rasa di hati ini,
tapi ntah kenapa sulit meluapkannya
Banyak pikiran di kepala ini,
tapi berat sekali mendeskripsikannya

Maaf...