Senin, Juni 14, 2010

Wanita Langsing

“Assalamu’alaikum, hai Ninaa... wah kangen deh, udah lama gak ketemu, makin subur aja nih...”, jerit kecil Rani dalam sebuah reuni SMP 79 di Jakarta baru-baru ini. Setelah perjumpaan intens itu serta bercanda-ria melalui facebook, akhirnya 5 wanita muda yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, karena usianya sekitar 30 sampai 35 tahunan ini memutuskan untuk berjumpa dalam rangka temu kengen dengan teman-teman satu gengnya dulu, sewaktu mereka masih remaja. “Ikkhh, tebel...”, cubit si langsing Rani, ke lengan Nina yang hanya mesem-mesem tak enak. Kemudian Dian mengalihkan pembicaraan yang menurutnya sudah tidak kondusif lagi karena melihat raut wajah Nina yang agak tidak sumringah seperti biasa.

Di tempat yang lain, “Hai, Ustad Gendut, ayo makan nih Ustad Gendut”, sambil menyorongkan piring berisi roti bakar dan teh manis, Dito, siswa kelas 2 SMP menyorongkan sepiring roti bakar pada ustadnya dalam acara perkemahan akhir tahun di Puncak. Dengan tergopoh-gopoh sang ustad yang memang bertubuh gemuk menyeret tubuhnya yang masih malas bermandikan cahaya matahari dan udara yang sejuk, membuatnya semakin malas untuk bergerak. Tanpa sadar sikapnya itu membuat anak-anak muridnya menjadi berani untuk tidak menghormatinya, dengan panggilan yang melecehkan, “ustad gendut” begitulah panggilannya. Sang ustad pun terlalu malas untuk menjawab atau menegur si anak murid.

“Sst, istri antum hamil lagi ya”, demikian bisik Pak Johan kepada Pak Ferdi ketika mereka bertemu di Bandara Sukarno Hatta. Lalu, perbincangan mereka merembet kesana dan sini yang utamanya menanyakan keadaan bisnis masing-masing. Kemudian dengan wajah malu Pak ferdi menyatakan “Tidak, mungkin istri ana lagi senang, sehingga nafsu makannya agak banyak akhir-akhir ini”, jelasnya ragu dan segera mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang membuat suasana pertemuan menjadi lebih nyaman.

“Subhanallah, Anti makin lebar, lagi senang yaa”, demikian sapa sang murrobiyah, guru ngaji wanitanya Santi yang sudah 7 tahun tidak bertemu dengannya sejak Santi dibawa suaminya ke Palembang. ”Iya ni mbak, di palembang makan melulu, keluarga si mas kan punya restoran pempek, dan makanannya enak-enak”, tawa Santi.

Si gemuk, Si gendut, si lebar, si tebel, sungguh bukanlah julukan atau panggilan atau pengenalan kepada seseorang yang menyenangkan, apalagi bila dia seorang wanita, maka kegemukan yang berterusan serta langkah yang lambat menyeret tubuhnya membuat sang wanita gemuk akan menjadi minder. Terlebih lagi keadaan seperti ini diingatkan terus oleh teman-temannya atau sanak saudaranya, sementara banyaknya iklan televisi, majalah dan iklan lain dimana-mana yang menggambarkan bahwa tubuh langsing yang dibalut pakaian tipis bahkan setengah terbuka adalah tubuh idaman semua lelaki dan juga impian hampir semua wanita. Media telah membuat image bahwa si langsing adalah ratu, dan dimanapun dia berada, dia berhak mendapatkan prioritas baik dari segi pekerjaan, pertemanan maupun hak untuk mem-bully teman-teman wanitanya yang gemuk.

Bahkan sekarang ini, ukuran eksistensi seseorang sering dilihat dari fisiknya, apalagi bila seorang Da’i adalah wanita maka orang akan melihat dari fisiknya. Bila fisiknya langsing maka menyenangkan untuk diihat dan dia berhak untuk menjadi wanita idola.

Oleh karena itu bila para Da’i wanita (khususnya) kurang gemar untuk bersyiar, maka tidak ada lagi idola terhadap wanita solehah. Tidak akan banyak lagi wanita yang berlomba-lomba mendapatkan gelar sholehah itu, karena lebih banyak wanita mengejar derajat kelangsingan daripada derajat kesolehannya.

Apakah tidak jelas bagimu sabda Rasululloh bahwa : “Dunia adalah perhiasan, Sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholehah” (HR. Muslim)

Jadi, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah, tidak wanita yang langsing, bukan?

http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/wanita-langsing.htm

Rabu, Juni 02, 2010

Ada Maunya

Wah... sayang kecil sudah semakin 'menjadi-jadi' tendangannya. Saya berani mengatakan tendangan karena yakin memang tendangan yang saya rasakan di perut bagian atas. Saya merasa (mudah-mudahan memang benar) itu adalah bagian kakinya yang sudah berada di bagian atas rahim. Alhamdulillah... kekhawatiran akan posisi sungsang yang sempat dilihat di layar USG beberapa pekan yang lalu akhirnya hilang karena sayang kecil sudah berada pada posisi yang benar untuk bisa lahir secara normal.

Nah, beberapa hari ini, ketika saya sedang beraktivitas, sayang kecil sering kali menendang-nendang di bagian yang tadi saya sebutkan. Tapi, ketika saya mengusap-usapnya, tendangan itu berhenti. Waktu saya lepaskan tangan, dia menendang lagi. Lalu, saya usap-usap lagi, dia diam. Saya lepas, dia menendang lagi, begitu seterusnya sampai beberapa kali.

Hari ini, kejadian itu terjadi lagi. Kali ini ummi-nya sayang kecil yang jadi sasaran. Ketika saya sedang ingin memejamkan mata sejenak, 15' menjelang waktu ashar, ummi-nya sayang kecil mengusap-usap sayang kecil. Tidak lama, tangan ummi-nya dilepas dan dia menendang, padahal saya sudah ingin terlelap. Saya terbangun dan mengatakan pada ummi-nya sayang kecil bahwa dia ingin terus diusap, bila dilepas pasti menendang. Ternyata benar terjadi, beberapa kali kejadian itu terulang lagi. Kami jadi saling tertawa menyaksikan tingkahnya sayang kecil di dunianya sana :)

Rupa-rupanya (mungkin) sayang kecil memang lagi ada maunya, mau terus-terus diusap. Ketika usapan itu hilang, dia merasa tidak diperhatikan sehingga menunjukkannya lewat tendangan agar ada orang yang memerhatikannya dengan mengusap-usapnya lagi.

Duh... sayang kecil... senangnya bisa merasakan semua gerakannya di dalam perut ini. Alhamdulillah. Semua ini akan menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah terlupakan bahkan sampai nanti dia tumbuh dewasa, insya Allah.

Hanya "I Love You"

Sepulang kerja kemarin, hampir menjelang Isya saya baru selesai menunaikan sholat maghrib. Saya langsung menatap televisi yang juga sedang ditonton oleh mama. Isinya berita tentang nasib relawan kemanusiaan yang sedang menuju ke Gaza, yang dihadang oleh Israel. Pada segmen itu, sedang diwawancara seorang wanita, istri seorang penumpang di kapal kemanusiaan itu, seorang reporter salah satu stasiun TV swasta, M. Yasin. Wanita itu bernama Veronika (belakangan saya tahu nama lengkapnya Veronika Baiin).

Ketika pembawa acara tv menanyakan sebuah pertanyaan, "Apa kabar terakhir yang disampaikan Yasin kepada Anda?" Istrinya itu menjawab, "Dia tahu saya orangnya lemah sehingga tidak pernah memberi kabar-kabar yang buruk. Terakhir dalam sms-nya dia hanya bilang 'I Love You, salam untuk semuanya'." Saat Veronika mengatakan itu, berkaca-kaca matanya dan sedikit terisak menahan tangis.

Saya yang menyaksikan tayangan itu cukup merasa... apa ya... antara sedih dan iba. Ibu Veronika itu juga sempat menuturkan bahwa jujur dia bangga kepada suaminya atas apa yang dijalankannya itu, sebuah misi mulia, misi kemanusiaan. Tapi, sekali lagi, (mungkin) istri mana yang tidak sedih mendengar kabar seperti itu terhadap orang yang dicintainya.

Lalu, tiba-tiba saya langsung teringat dengan suami yang saat itu belum lagi tiba di rumah. Ditambah lagi hujan lebat tiba-tiba turun. Pesan singkat yang saya kirimkan tidak ada respons darinya menambah rasa kekhawatiran. Tapi, saya mencoba menunggu dengan tenang dan sabar. Saya yakin dia akan baik-baik di luar sana dan selamat sampai di rumah. Jika terjadi sesuatu padanya saya yakin dia akan mengabarkannya kepada saya dengan cara apapun (bener kan, Mas?) :)

Kamis, Mei 27, 2010

Menjawab Pertanyaan Ayahnya

Suatu hari, di usia kehamilan menginjak 8 bulan.
Waktu itu ba'da sholat maghrib. Selepas sholat, seperti biasa, ayah dan bunda berdzikir dan berdo'a, lalu lanjut ke agenda makan malam. Nah, selesai dzikir dan do'a, ayah tidak langsung bangun menuju meja makan, melainkan justru merebahkan diri di atas sajadah. Akhirnya, ayah dan bunda terlibat pembicaraan hal-hal ringan seputar hari itu, sebentar.

Setelah itu, bunda merasa lelah dan ingin cepat-cepat istirahat. Bunda mengajak ayah untuk segera makan malam. Rupa-rupanya, ayah berniat untuk tilawah dulu untuk sayang kecil. Bunda agak terperanjat karena biasanya memang tilawah untuk sayang kecil dilakukannya menjelang bunda tidur.

Tiba-tiba, dengan spontan, ayah mendekati perut bunda dan berbicara dengan sayang kecil.
"Sayang mau ma'em atau mau denger ayah tilawah?" kata ayah.
"Kalau mau maem sekali, kalau mau tilawah dua kali," lanjutnya. Maksudnya, kalau sayang kecil mau maem, dia diminta untuk merespons dengan 1x gerakan, jika mau mendengar tilawah ayahnya memberikan respons 2x gerakan.

Tanpa kami sadari, sayang kecil ternyata langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Dia memberikan gerakan 1x dan memang hanya 1x. Setelah itu, kami menunggu sejenak, kalau-kalau akan ada gerakan lagi. Tapi, ternyata tidak ada lagi. Ayah pun akhirnya bangun dari rebahannya dan mengatakan, "Oke, kita makan, yuk!"

Kami berdua saling tersenyum dan bercampur kaget saat tahu kalau sayang kecil benar-benar merespons pertanyaan ayahnya. Subhanallah... anak yang cerdas, insya Allah. Mudah-mudahan kelak benar-benar jadi anak yang cerdas, ya. Amiin.

Tak Lagi Hanya Menendang

Semakin besar sudah perut Bunda, semakin besar juga pertumbuhan sayang kecil di dalam rahim. Aktivitasnya sudah tak lagi sedikit, tapi sudah banyak. Mungkin kalau bisa ditebak, memang sudah banyak rasa yang dia ekspresikan lewat gerakan. Hanya saja, kita yang di luar dunianya hanya bisa meraba, tidak bisa tahu dengan pasti sedang apa dia di dalam ruang yang cukup hangat itu.

Usianya yang sudah 8 bulan lebih ini, gerakan-gerakan yang diperlihatkannya sudah bukan lagi hanya menendang. Bunda pun sudah jarang lagi menyebut kata 'menendang' karena khawatir makna kata itu mengarah pada aktivitas yang negatif dan khawatir juga dia jadi mengingat kata itu. Ada gerakan lain yang Bunda namakan 'menggeliat'. Ntah benar atau tidak, tapi seperti itulah kira-kira namanya. Ya, karena memang Bunda tidak merasakan itu sebagai sebuah tendangan, tapi seperti gerakan menggeser, merubah posisi, atau memang menggeliat sungguhan. Kalau dilihat secara kasat mata, perut Bunda seperti bergelombang saat sayang kecil 'menggeliat' itu.

Dulu, kalau malam hari, gerakan 'menggeliat' itu terlihat sekali dan terjadi berkali-kali. Bunda tidak menyentuh perut, tapi justru lebih seru melihat dari atas posisi perut yang berombak-ombak (ups, berlebihan, ya?!). Setelah itu, Bunda ceritakan kepada ayah dan ummi-nya sayang kecil. Saat mereka melakukan hal yang sama pada perut Bunda, mereka pun tak kalah kagetnya dengan Bunda dan satu hal yang terlihat setelah kekagetan itu, jelas... wajah senyum mereka, wajah senang karena menyaksikan sesuatu yang (mungkin) belum pernah mereka lihat sebelumnya. Semua itu pertanda bahwa buah hati kami baik-baik di sana karena dia aktif bergerak.

Mudah-mudahan, sampai waktu 'terbaik' itu tiba, dia akan lahir dengan sehat dan selamat. Amiin.

Kamis, Mei 06, 2010

Jangan Mengeluh

Ntah harus mengawalinya dengan kata apa, saya bingung. Cerita aja ya...
Tadi malam, suami saya menceritakan teman SMA-nya (yang juga teman saya) yang sedang hamil. Usianya hampir sama dengan kehamilan saya. Dalam sebuah situs jejaring sosial, teman kami itu menanyakan usia kehamilan saya kepada suami. Lalu, ada juga kalimat agak mengeluh dengan kehamilannya karena merasa lama menunggu waktu lahiran tiba. Oleh karena dia merasa tidak nyaman.

Lantas, apa yang ditulis oleh suami terhadap kalimat keluhannya itu?Dia menjawab pertanyaan tentang usia kehamilan saya dan menambahkan kalimat "...tapi tidak banyak mengeluh". Setelah itu, (kata suami) dia tidak menanggapi kalimat itu.

Saya hanya membalas (memberi respon) senyum kepada suami saat dia bercerita. Di dalam hati, saya cukup bahagia dengan sikapnya yang membahagiakan saya, yang berusaha membanggakan istrinya tetapi bukan berarti ujub melainkan ingin memberikan nasihat kepada teman kami itu. Di dalam hati (lagi) saya mencoba merenung apakah kata-kata suami kepada teman kami itu benar adanya?! Apakah saya memang tidak banyak mengeluh?!

Saya coba merenung, bahkan sampai tadi pagi. Saya merasa ditegur dan dinasihati juga bahwa janin di dalam rahim jangan dianggap sebagai beban, melainkan sebuah anugerah tak ternilai. Bahkan, Allah mengganjarkan surga (mati syahid) untuk para ibu yang meninggal saat melahirkan anak dari dalam kandungannya. Coba lihat di luar sana, begitu banyak pasangan suami-istri yang ingin sekali memiliki keturunan tapi belum juga Allah berikan, sedangkan kita diberikan anugerah itu dengan tidak menunggu lama setelah menikah.

Saya juga teringat dengan banyaknya aktivitas saya yang terhalangi dengan kehadiran sang janin. Tapi, akhirnya saya menyadari dan mensyukurinya bahwa semua ini adalah nikmat-Nya, anugerah-Nya, dan suatu saat nanti saya akan mengenang saat-saat indah dengan perut membuncit ini dikarenakan ada seorang makhluk mungil di dalamnya. Merasakan gerakannya, keaktifannya, dan masa-masa melahirkan yang (mungkin) tak akan bisa terlupakan seumur hidup.

Subhanallah... dengan keadaan saya yang sekarang ini, saya benar-benar merasa betapa agung-Nya Dia, betapa Mahabesar-Nya Dia. Setelah ketakjuban saya dengan saktinya sebuah kalimat ijab-qabul (dulu), sekarang saya kembali merasa takjub dengan kekuasaan-Nya yang dapat menciptakan seorang makhluk yang berawal dari sebuah tempat sempit di dalam rahim seorang ibu. Subhanallah...

Semoga bisa menjadi pelajaran untuk semua calon ibu di seluruh dunia :)
'Tuk Ayahnya sayang kecil: Makasih ya :)

Kamis, April 08, 2010

Semakin Eksis

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul "Menunjukkan Keeksisan"? Ini ada lanjutannya. Ya, buah hati kami, sayang kecil kami, seorang bayi mungil di dalam rahim ini, sudah lebih menunjukkan keeksisannya. Tidak tanggung-tanggung :)

Menginjak usianya menjelang 7 bulan, gerakannya -- ntah itu tendangan, tonjokan, dll. -- mulai terasa, sangat terasa. Dalam berbagai kondisi, dia bisa bergerak. Waktu lagi dengar ummi-nya sayang kecil nyanyiin Asmaul Husna setiap pagi, tilawah ayahnya tiap malam, tilawahnya bunda di kantor, lagi diajak ngobrol sama bunda, ummi, atau ayahnya, dll. Alhamdulillah, semua itu insya Allah menunjukkan bahwa dia baik-baik saja di dalam alam rahim sana.

Tapi, sampai sekarang bunda masih aja tetap kaget kalau sayang kecil gerak tiba-tiba. Kadang-kadang latah ngucap "aduh", habis itu baru diajak ngobrol. Main tepuk-tepukan sama bunda udah mulai jarang niy...bundanya agak-agak lupa ;) mudah-mudahan nanti bisa dibiasain lagi.

Ya Allah, berikan semua yang terbaik untuk sayang kecil kami, ya.. :)

Selasa, April 06, 2010

Menjadi Lebih Baik (Seharusnya)

Menikah. Dulu, satu kata itu terdengar begitu indah, walaupun nggak indah-indah banget karena saya juga mengikutsertakan pikiran tentang hal-hal yang 'bertambah'. Iya, yang tadinya cuma ngurus diri sendiri nantinya harus ngurus suami juga, yang tadinya bisa jalan ke mana-mana sendirian 'n cuek nantinya harus jalan berdua dan kalau mau jalan sendiri (tanpa suami) harus izin suami. Tapi, semua itu bukan berarti pengekangan dan beban melainkan tambahan amal yang dapat menambah catatan pahala kita, 'tul nggak? :)

Dalam do'a saya dulu sebelum menikah, saya meminta kepada Allah swt agar didatangkan seorang pendamping hidup yang bersamanya saya dapat lebih meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya dan dapat menjadi diri yang lebih baik karena ada seseorang yang dengan setia akan selalu mendengar dan memberi nasihat akan kekurangan-kekurangan kita. Ya, seharusnya memang seperti itu, bukan? Sudah ada 2 orang seharusnya bisa menjadi lebih baik daripada sendiri, bukan?! Semoga hal ini juga yang dapat menjadi salah satu alasan mengapa (orang-orang yang belum menikah) menikah.

Ada satu cerita sederhana dari supervisor saya di kantor, dulu, lama sekali. Katanya, dengan menikah suaminya (laki-laki) hidupnya jadi lebih teratur dan efeknya menjadi lebih sehat. Ketika masih bujang, jarang laki-laki yang memerhatikan pola makannya, Tapi, setelah menikah semua bisa jadi teratur karena ada seorang istri yang mengingatkan. Misalnya, setelah makan jangan lupa untuk makan buah supaya lebih sehat. Contoh lain (di luar cerita) mengkonsumsi suplemen yang aman untuk tubuh 1x seminggu, olahraga secara rutin, mengkonsumsi makanan-makanan sehat (karena kalau masih bujang (mungkin) makan semaunya aja, tidak mempertimbangkan nilai gizi apalagi mudharat-nya buat tubuh), dan sebagainya.

Cerita di atas lebih ke pola makan. Ingin saya tambahkan tentang sikap menghargai orang lain. Ketika masih 'sendiri', makanan yang ada di rumah itu yang dimakan, kalau nggak puas beli lagi di luar sampai terpuaskan. Walaupun ibu atau khadimat-nya sudah masak sepenuh hati, kurang ada penghargaan yang spesial untuk mereka, paling minimal ucapan 'terima kasih' (itu juga kalau inget).

Setelah menikah, seharusnya kita bisa lebih menghargai orang yang masak untuk kita, terlebih itu suami/istri sendiri. Kalau itu suami kita, coba bayangkan, orang yang sudah lelah mencari nafkah untuk keluarga dan di rumah dia sempatkan memasak untuk kita, tapi tidak kita hargai, sedikit pun. Bahkan mungkin, jangan-jangan malah mencemooh dan malah mencari makan di luar karena masakan suami tidak membuat selera makan. Kalau itu istri kita, coba bayangkan, orang yang sudah sehari-hari melayani kita (di luar memasak), membereskan rumah, dan dia juga memasak untuk makan kita, tapi tidak kita hargai, sedikit pun, dalam bentuk apapun.

Satu lagi sebagai bagian dari menghargai, yaitu komunikasi. Hal-hal yang kecil sekali pun perlu kita komunikasikan dengan pasangan kita (udah mulai fokus ke pasangan niy jadinya). Kalau boleh saya katakan, ketika sedang bersama dengan suami/istri (santai) dan ada rasa mau ke toilet, kita perlu katakan kepada pasangan kita itu, tidak langsung pergi saja tanpa berucap satu huruf pun. Simple dan sepele kelihatannya, tapi alangkah baiknya jika kita bisa belajar dari hal-hal simple itu agar bisa melakukan yang lebih besar.

Masih banyak hal-hal, yang kecil sekali pun, yang mungkin kurang kita hargai dari pasangan kita. Cobalah untuk ber-muhasabah diri dan belajar lagi untuk bisa lebih menghargai orang lain sekali pun tanpa ditegur/diingatkan. Berat rasanya, tapi belajarlah ;)

Jumat, Maret 19, 2010

Sapaan Pagi

Seperti hari-hari kerja biasa, setiap pagi saya selalu menyetrika pakaian yang akan saya pakai ke kantor, pakaian suami juga. Seperti biasa juga, sejak hamil, sambil menunggu setrika panas, saya duduk sejenak di kursi lipat sambil setengah merebahkan badan. Selalu saya sempatkan untuk menyapa sayang kecil kami setiap pagi dengan sapaan "Assalamu'alaikum, sayangnya Bunda". Saya hanya ingin membiasakan untuk berbicara (selalu) dengannya, apalagi sebentar lagi dia sudah bisa mendengar suara-suara dari luar.

Nah, satu hal yang surprise terjadi pagi ini. Saat saya duduk di kursi lipat itu, saya sapa sayang kecil sambil mengulas kejadian tadi malam di mana dia terus menendang-nendang perut bahkan sampai menjelang tidur.
"Assalamu'alaikum, sayang kecil Bunda... udah pagi, Nak. Tadi malam tendang-tendang Bunda ya? Terus ikut Bunda bobo gak?..."

Lalu, tiba-tiba, saya terpikirkan untuk mempraktikkan apa yang ditulis oleh Mbak Afifah dan suaminya dalam buku "Mengukir Cinta di Lembar Putih" yakni berbicara dengan janin sambil mengatakan "tepuk", "tekan", "usap", "belai" seraya melakukan hal tersebut dengan perut kita. Saya penasaran apakah mungkin dia akan merespon balik. Saya tepuk 1 kali sambil bilang, "Bunda tepuk ya", tanpa saya kira ternyata dia merespon tepukan saya itu. Kemudian, saya coba lagi yang kedua kali, "Eh, sayang kecil tepuk balik ya? Bunda tepuk lagi ya", dan lagi-lagi dia merepon tepukan saya. Saat mau yang ketiga kali, "Satu kali lagi, ya sayang", ternyata dia (mungkin) sudah tidak mau lagi jadi tidak merespon balik. Lalu, saya katakan padanya, "Udahan ya, tepuk-tepukannya? Bunda setrika dulu ya". Saat itu juga setrikaan saya sudah mulai panas. Mungkin karena itu juga, jadi dia sudahi responnya agar Bunda cepat-cepat menyetrika:)

Selang kejadian itu, sampai saya bersiap-siap dan melayani suami yang mau berangkat kerja, saya selalu tersenyum-senyum sendiri. Suami (pasti) penasaran, walau dia tidak tanya (seperti biasa), tapi saya yakin ada pertanyaan dalam dirinya melihat istrinya senyum-senyum sendiri tanpa sebab. Saya tidak menceritakan kejadian ini langsung padanya. Tapi, saya minta dia untuk membaca sendiri cerita ini, di sini.

Rasanya surprise bangeeeeet, senang rasanya, pagi ini, di hari Jum'at ini, diawali dengan sapaan yang menyenangkan dari sayang kecil. Mudah-mudahan semua pertanda baik bahwa sayang kecil kami memang kelak akan menjadi anak yang aktif dan cerdas, tapi shaleh/shalehah-nya ngga boleh ketinggalan juga... ;)

Kamis, Maret 11, 2010

Kami di Tengah-tengah

Musim hujan yang berlangsung beberapa bulan ini terkadang memang sulit diprediksi. Awan yang terang terkadang belum tentu pertanda cerah. Keluar dari pintu kantor hujan, setelah jalan 500 meter ternyata malah terang. Ya... semua itu adalah anugerah, kita patut bersyukur diberi panas dan hujan, coba bayangkan kalau seperti di Eropa sana yang ada musim salju, bayangkan! Hujan saja kita suka kedinginan apalagi salju. Tapi, sekali lagi, hal itu juga harus disyukuri, lho ;)

Seperti kejadian yang saya dan sahabat saya alami saat perjalanan pulang dari kantor kemarin. Dari kantor, langit memang mendung, tapi belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Kami pun keluar tanpa prepare apapun, jas hujan pun tidak disiapkan. Setelah melewati lampu merah dekat Fed Ex menuju perempatan Denso, beberapa motor tiba-tiba berjalan pelan dan ada yang sebagian minggir ke tepi jalan. Kami berdua bingung.

Di dekat perempatan Denso (seberang jalan) kami melihat ada seperti kabut berwarna putih dan secara perlahan sekali mendekati kami dan para pengendara motor lain. Sahabat saya sudah hampir mau meng-klakson motor-motor itu karena dikira ada kecelakaan dan semua pada nonton. Ternyata, itu bukan kabut, bukan juga ada kecelakaan, melainkan di seberang jalan sana sudah turun hujan yang sangat deras tapi hanya sebatas seberang jalan itu. Itu sebabnya para pengendara motor berhenti untuk segera mengenakan jas hujan karena akan menyeberangi jalan di depan itu. Begitu sahabat saya menengok ke belakang kami, ternyata juga terjadi hal yang sama, hujan deras. Kami benar-benar berada di tengah-tengah daerah yang tidak kena hujan. Subhanallah... pertolongan Allah ini sungguh baru pertama kali ini kami alami. Benar-benar kami lihat dengan mata-kepala kami sendiri. Sungguh fenomena yang indah dan mencengangkan!

Sahabat saya sampai mau menitikkan air mata menyaksikan kejadian itu. Ya, airmata kagum akan begitu agungnya kuasa Sang Maha Penguasa alam ini.

Mungkin deskripsi dalam tulisan ini tidak bisa menggambarkan dengan detail kejadian yang sebenarnya. Mungkin pembaca juga tidak bisa membayangkan kejadiannya dari tulisan ini. Satu hal, kami mengalaminya dan cukup itu jadi pengalaman berharga buat kami dan para pengendara motor yang ada di sana ;)

Rabu, Maret 10, 2010

Syar'i-tidaknya Busana Muslimah

Sudah tidak asing lagi di lingkungan kita sosok-sosok wanita Islam (muslimah) yang mengenakan "jilbab", dimana merupakan wujud dari apresiasi hukum wajib Islam yang harus ditaati. Dan adalah hal yang sangat menggembirakan ketika melihat para wanita Islam mulai berbondong-bondong mengenakan jilbab.


Jilbab yang dipahami masyarakat kita adalah jilbab sebagai kerudung, bukan dari makna aslinya, yakni baju luar yang dipakai untuk menutupi tubuh dari atas (kepala) sampai bawah (kaki), kemudian dikenal dengan nama hijab, karena dipakai dengan maksud untuk menghindari dari pandangan laki-laki yang bukan mahram (tidak mempunyai hubungan darah/kekerabatan).


Semakin banyaknya muslimah yang memakai jilbab dewasa ini, nampaknya tidak disia-siakan oleh dunia mode, sehingga terciptalah banyak model/kreasi jilbab yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Dan Pada dasarnya, model seperti apa pun jilbab yang dikenakan seorang muslimah, harus tetap mengacu pada standarisasi jilbab yang dimaksud dalam ajaran Islam, dimana fungsi sebenarnya adalah pakaian takwa atau hijab.

Adapun syarat hijab seorang muslimah adalah:

  1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan, seperti muka dan telapak tangan.
  2. Tidak ada hiasan pada pakaian itu sendiri.
  3. Kain yang tebal dan tidak tembus pandang.
  4. Lapang dan tidak sempit. Karena pakaian yang sempit dapat memperlihatkan bentuk tubuh seluruhnya atau sebagian.
  5. Tidak menyerupai laki-laki.
  6. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
  7. Pakaian yang tidak mencolok.

Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa jibab itu syar'i atau tidak dengan mengacu pada tujuh syarat tersebut.


Yang menarik perhatian penulis dan perlu dicermati adalah model jilbab yang sepertinya syar'i (sesuai aturan Islam) tapi ternyata tidak syar'i. Penulis mengambil contoh salah satu model jilbab lebar (biasanya menjuntai sampai pusar atau menutupi dada) yang ada kerutan dan neci pada leher. Kalau ditarik ke belakang, samping, atau depan (sesuai modelnya), leher akan terlihat lebih ramping tapi tidak mencekik. Dan biasanya, model jilbab ini berbahan kain "jatuh" atau lembek. Kalau kita perhatikan lebih teliti, model seperti ini akan menampakkan lekuk pada pundak dan dada.


Salah satu contoh lainnya, yakni pada jilbab yang ada kerutan di kepala, melingkar dari telinga kanan ke telinga kiri. Kalau yang memakai jilbab model seperti ini menyanggul rambutnya, maka rambut akan terlihat bentuknya, karena posisi kerutan tepat di bawah sanggulan rambut. Padahal dalam konteks menutup aurat, di sini tidak hanya menjadikannya tidak kelihatan secara fisik, tapi juga secara bentuk (lekuk).


Jadi, sudah seharusnya para kaum muslimah lebih hati-hati dalam memilih model jilbab, karena yang disyari'atkan bukan hanya lebar menutup dada, tapi juga harus tebal (tidak transparan), tidak menarik perhatian, dan tidak menampakkan lekuk tubuh.

Wallahu a'lam bishshawab.

Rifatul Farida

Sumber: www.eramuslim.com

Ibu Any? Siapa, Ya?

Hari Jum'at yang lalu, saya pergi ke Islamic Book Fair 2010 bersama sahabat saya. Hari itu adalah hari pertama book fair. Setahu kami, book fair akan buka pukul 10.00 wib, jadi kami memperkirakan waktu keberangkatan agar tepat sampai di sana atau lewat sedikit.

Sampainya di sana, sudah jam 10 lewat beberapa menit. Oleh karena sahabat saya tiba-tiba kurang enak badan, akhirnya kami mampir dulu ke sebuah tenda rumah makan untuk memesan teh manis hangat. Setelah selesai, kami memutuskan untuk segera ke pintu depan gedung istora karena cuaca sangat mendung. Rupanya, belum dibuka juga pintu masuknya. Kami pun duduk-duduk di tembok taman dan di sana memang sudah banyak juga orang-orang yang lebih dulu duduk. Menjelang jam 11.00 pintu juga belum dibuka. Para pengunjung mulai jenuh.

Tanpa disengaja, saya mendengar seorang security berbicara sesuatu dengan peserta book fair untuk memindahkan kendaraannya karena tempatnya akan menjadi jalur lewatnya orang penting. Bapak security itu menyebut satu nama, Ibu Any. Saya langsung tanggap bahwa yang dimaksud adalah ibu presiden RI, Any Yudhoyono. Lalu, saya berkata pada sahabat saya bahwa kemungkinan pintu baru akan dibuka setelah Ibu Any tiba. Bertambah BT lah kami.

Tak lama ada seorang ibu duduk di samping sahabat saya. Ketika ibu itu mulai mengajak bicara tentang alasan pintu book fair belum dibuka, sahabat saya menceritakan perihal Ibu Any yang saya dapatkan. Tanpa diduga, ibu yang di samping sahabat saya itu berkata, "Ibu Any siapa ya?" Gubraaakk!!!

Mendengar cerita itu, saya tidak dapat menahan tertawa bersama sahabat saya itu. Ternyata, Ibu Any tidak cukup dikenal sebagai orang besar, ya... kok bisa?! :)

Selasa, Maret 02, 2010

Menunjukkan Keeksisan

Alhamdulillah... sampai detik ini buah hati kami, sayang kecil kami dalam keadaan sehat wal'afiat. Usianya sudah masuk bulan kelima, tepatnya 20 minggu, kalau perhitungannya tepat. Soalnya ada juga perhitungan yang 21 minggu. But, it's okey, intinya dia sehat dan jadi anak cerdas nantinya. Amiin.

Nah, beberapa hari ini, menginjak usianya yang menjelang 5 bulan, sayang kecil terasa suka gerak-gerak. Sejujurnya nggak tahu juga siy, apakah itu rasanya kalau dia sedang bergerak, tapi Bunda diyakini siy... sepertinya memang iya. Seperti hari ini, menjelang subuh tadi, sayang kecil Bunda rasain bergerak, terus Bunda bilang sama Ayah yang langsung meletakkan telapak tangannya di perut Bunda dan benar... Ayah bilang, dia merasakan ada yang bergerak di dalam perut Bunda. Berarti benar, dia sudah menunjukkan keeksisannya :)

Satu penguatan lagi. Kira-kira menjelang siang tadi, Bunda lagi ngobrol sama Ummi-nya sayang kecil, terus tiba-tiba Bunda rasain dia bergerak. Bunda panggil Ummi yang juga langsung meletakkan telapak tangannya di perut Bunda. Lagi-lagi... benar! Ummi juga merasakan gerakan sayang kecil, katanya. Senangnya... :)

"Sayang kecil... besok-besok lebih banyak bergerak lagi ya, Nak, biar bisa lebih dirasa sama Ayah dan Ummi-nya sayang kecil, okey;) Dan sebagai pertanda kalau kamu di sana sehat-sehat dan baik-baik saja karena bergerak dengan aktif."

Kita semua sayaaaaaang sama kamu, mmmuuaaaah...

Senin, Februari 15, 2010

Nyundul Bola

Sampai saat ini, sayang kecil yang sudah menginjak 18 minggu lebih dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada keluhan berarti. Jadi inget kalau lagi periksa ke dr. Kus, pertanyaan beliau pertama kali ketika saya masuk ruangannya adalah "Ada keluhan?" dan saya jawab, "Ngga ada, dok." Alhamdulillah... sayang kecil Bunda sehat-sehat selalu, jadi anak pintar ya, Nak :)

Ups! lupa, ada deh , bukan keluhan, tapi keanehan yang bikin lucu. Beberapa hari terakhir ini, Bunda perhatikan, perut Bunda agak-agak miring, kalau ngga ke kanan ya ke kiri. Kayaknya itu ulahnya sayang kecil deh, dia lagi miring-miring gitu. Bunda sama Ummi-nya sayang kecil bercanda, kalau dia miringnya ke kanan, "Sayang kecil lagi nyundul bola di sebelah kanan ya?" :) Begitu juga sebaliknya.

It's OK! yang terpenting dia jadi anak yang sehat nantinya dan cerdas seperti ayahnya. Amiin ;)

Rabu, Februari 10, 2010

Buat Sayang Kecil

Look at this picture first.

Itu dia jadwal bervitaminnya Bunda setiap hari. Jadwal itu tertempel rapi di meja kerja Bunda. Kenapa sampai diketik begitu? Mungkin karena saking banyaknya, Ummi-nya sayang kecil takut Bunda lupa (karena memang suka lupa) makanya dibuatin jadwal itu. Semua itu buat sayang kecil kami biar sehat dan kuat, juga biar jadi anak yang cerdas nantinya, insya Allah. Amiin.

Jadwal bervitamin itu mulai berlaku sejak hari ini. Bunda ngga mau mengatakan "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" karena buat sayang kecil insya Allah tidak ada kata 'terlambat'.

Dari sejak selesai sarapan minum kaplet Osteocare dari dr. Kus sampai mau pulang dan bahkan sampai di rumah, insya Allah semua dijalankan dengan senang dan sepenuh hati. Awalnya sempat trauma di pagi hari. Pertama kali minum kaplet baru itu, Bunda muntahin lagi tu obat karena ngga tertelan. Ntah, perasaan dari dulu minum obat baik-baik saja tapi kenapa kali ini malah begini?! Masa' mesti kembali seperti anak kecil yang makan obatnya pakai pisang?! Akhirnya, ditemukan solusi untuk membelah obatnya. Kedua kali minum, lancar. Selanjutnya, setengah obat Bunda muntahin dan yang tersisa Bunda coba untuk telan lagi dalam keadaan setengah hancur. Keesokan harinya, kejadian kembali terulang. Kalau dua hari yang lalu setengah obat yang dimuntahkan itu potongan kedua, hari kemarin potongan pertama. Jadi ilfil deh. Obat kedua berusaha dipikirkan agar tidak dimuntahkan lagi.

Berhasil... berhasil... berhasil! Bunda menemukan cara untuk minum kaplet itu. Walhasil, sampai tadi pagi Bunda berhasil minum tu kaplet dengan lancar, tanpa adegan dimuntahkan lagi. Alhamdulillah. Semoga semua tetap baik-baik saja dan kaplet itu berhasil Bunda habiskan dalam satu bulan ke depan ;)

Menyeberang Jalan

Sifat ingin selalu dimudahkan, ntah apa nama yang benarnya (sesuai EYD), selalu diinginkan oleh semua orang. Apalagi jika sifat itu sudah menjadi karakternya, di kondisi apapun bisa jadi sifat itu akan dominan. Perubahan statusnya menjadi seorang istri atau suami terkadang tidak serta merta membuatnya menjadi terbalik, (mungkin) pelan-pelan, atau biasa orang menyebutnya 'butuh proses'. Terkadang, ia bisa lupa sehingga lagi-lagi dia memudahkan dirinya sendiri tanpa memikirkan pasangannya. Sampai suatu ketika ia tersadar sendiri atau diingatkan oleh pasangannya. Dari kisah di bawah ini, mungkin bisa kita ambil ibrahnya.

Suatu hari, saya melihat sebuah kejadian di jalan raya. Sepasang suami-istri (saya pikir) berhenti di pinggir jalan setelah menyeberang sambil berbelok dari jalan di seberangnya. Sepertinya si suami sedang mengantar istrinya sampai di tempat berhenti itu, untuk selanjutnya si suami berangkat kerja dengan jalur yang berlawanan dengan si istri (saya pastikan si suami mau berangkat kerja karena pakaiannya mencirikan hal itu). Lalu, si istri mencium tangan suaminya, dan berangkatlah si suami.

Selang beberapa saat, saya perhatikan si istri kesulitan sekali untuk menyeberang karena begitu padatnya arus lalulintas di jalan itu. Lama sekali dia menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang. Saya rasa perempuan muda itu bukan seorang yang takut untuk menyeberang karena gelagat seorang penakut atau tidak saya tahu karena sudah sering melihat yang seperti itu. Laju motor yang begitu cepat dan mobil pun tidak kalah cepat begitu menyeramkannya untuk memberanikan diri menyeberang. Ntah berapa menit sudah berselang akhirnya si istri itu menyeberang juga dan naik angkot.

Pertanyaannya: Mengapa si suami tidak mengantar si istri ke arah jalan sebelah kiri yang membuatnya tidak harus menyeberang jalan? Bukankah kalau motor yang memutar (saya melihat ada sebuah putaran tidak jauh dari tempat sepasang suami-istri itu berhenti) lebih mudah ketimbang orang (sendiri) yang harus menyeberang di tengah arus lalulintas yang begitu padat?

Saya tidak mau menyalahkan si suami. Tulisan saya ini bukan mau men-judge si suami lantaran membiarkan istrinya kesulitan menyeberang jalan, ditambah lagi (mungkin) si suami juga tidak tahu seberapa sulit istrinya menyeberang di jalan itu.

Semoga bisa diambil hikmahnya ;)

Senin, Februari 08, 2010

Melambaikan Tangan?

Hehehe... ntah kenapa terlintasnya judul itu. Jujur saya bingung mau tulis judul apa, yang menarik, tapi juga mencirikan isi tulisan saya.

Tepat, hari Jum'at kemarin, malamnya, sepulang dari kantor, Bunda dan Ayah berangkat untuk "menengok" keberadaan sayang kecil kami, diiringi rintik-rintik hujan menjelang sampai di RSMK. Cukup lama menanti, giliran Bunda pun tiba. Seperti biasa, dr. Kus dengan mahirnya langsung men-USG perut Bunda.

Itu dia! Itu dia sayang kecil kami. Tampak lebih besar dari satu bulan yang lalu. Kepalanya yang membuat Bunda terkesima kali ini karena ukuran terlihat sudah cukup seperti bayi yang siap lahir. Lalu, dr. Kus memperlihatkan dan memberitahukan tangan dan kakinya yang masing-masing berjumlah lengkap, sepasang, kanan dan kiri. Dia juga terlihat aktif bergerak, seperti itulah penglihatan Ayah, katanya. Senangnya. Alhamdulillah. Jantung sayang kecil juga sepertinya terlihat lebih besar dari satu bulan yang lalu dan pastinya terus berdetak. Subhanallah. Terima kasih ya, Allah...

Tak lama, ketika suster mengangkat telepon, Ayah memegang kaki Bunda sambil bertanya tentang jenis kelamin sayang kecil. Dokter pun berusaha memenuhi keinginan Ayah dan mulai mencari-cari posisi yang tepat untuk mendapatkannya. Ternyata... keinginan Ayah belum bisa dikabulkan. Sayang kecil terlalu banyak bergerak, sepertinya, soalnya ketika alat dokter gerak-gerak eh... dia juga ikut gerak-gerak, dokter jadi kesulitan deh nemuin jenis kelaminnya. Tapi, ngga apa-apa, Ayah juga tidak memperlihatkan wajah kecewa kok. Bunda siy (tiba-tiba) pengennya ngga usah tahu aja jenis kelaminnya sayang kecil, pengen jadi big surprise aja pada saatnya tiba nanti. Tapi, semua terserah Allah aja, kalau nanti ternyata terlihat ya... disyukuri :)

Berat sayang kecil sekarang 139 gram kata hasil USG, usianya menginjak 17 minggu 1 hari (pada hari Jum'at itu). Hasil USG-nya tidak bisa ditampilkan lagi di sini, soalnya gambarnya juga tidak terlalu jelas karena itu tadi, sayang kecil gerak-gerak melulu, bikin dr. Kus jadi gemes kali ya. Ups, dr. Kus atau Bunda yang gemes?? ;) Kayaknya siy... sesuai dengan permintaan Ummi-nya sayang kecil waktu sore pulang dari kantor kalau sayang kecil nanti pas "difoto" disuruh melambaikan tangan. Mungkin gerakan tangannya itu mencirikan dia sedang melambaikan tangan sama Ayah dan Bunda, iya? Terus, senyum yang terlihat di fotonya itu permintaan Bunda supaya bisa dilihat sama Ummi, iya? :)

Sayang kecil sehat selalu ya, terus tumbuh dan berkembang dengan baik ya, Nak. Ayah, Bunda, Ummi, Nenek, Kakek, Tante, Mbah Kakung, Mbah Putri, Bulek, dan semua orang sayang sama kamu dan pasti mendo'akan kamu.

Rabu, Februari 03, 2010

Ingin Bisa Mengaji

Suatu hari, saat saya sedang (insya Allah) khusyu' tilawah Al-Qur'an, datang seseorang ke meja saya. Saya tahu kedatangannya, saya pikir dia sedang memerhatikan layar komputer yang ada di samping meja saya. Tapi, tiba-tiba mulai ada rasa keanehan, saya hentikan tilawah saya dan menengok ke arahnya. Rupanya, benar, dia sedang mendengarkan tilawah saya.

Lalu, dia mulai bicara, "Gue pengen lho, bisa ngaji kayak gitu", katanya singkat dengan wajah agak-agak malu. Saya katakan saja, "Ya belajar donk!". Dia lalu bilang kalau dulu pernah belajar tapi tidak berlanjut karena sempat bertengkar dengan guru ngajinya lantaran dia baru datang (karena telat) tapi sudah langsung dikasih materi. Setelah itu, dia ngga belajar ngaji lagi, tapi dia pengen belajar lagi, namun malu. Dia malah sempat nyeletuk, "Nanti kalau calon mertua suruh gue ngaji, tapi gue ngga bisa, gimana?". Saya tersenyum mendengar kalimat dia itu. Saya lanjutkan, "Iya, nanti juga kalau ngajarin anaknya ngaji, gimana? Kalaupun anaknya belajar sama guru ngaji, nanti kalau dia nanya sama bapaknya, gimana?" Dia malah tersenyum-senyum. Saya kembali memberinya support untuk belajar ngaji lagi, tapi dia tetap bilang malu karena sudah gede tapi baru mau belajar ngaji. Saya katakan bahwa untuk kebaikan/belajar kenapa mesti malu.

Pembicaraan singkat itu pun berakhir. Saya pun melanjutkan tilawah. Di dalam hati bergumam, alhamdulillah sejak kecil saya sudah diajarkan mengaji. Saya patut mensyukuri itu.

Jumat, Januari 29, 2010

Pengantar Wanita Bicara

Wanita : Artikel mengenai pesona wanita ini menggambarkan wanita (sebagai istri, sebagai nenek, sebagai ibu, sebagai mujahiddah, sebagai guru, sebagai ustazah, sebagai anggota masyarakat dan lain-lain), mereka membuat ulah, mereka mengukir sejarah, mereka menebar pesona, namun tanpa mereka, kita tidak pernah ada, Wanita diciptakan untuk mendampingi lelaki sebagaimana ibunda Siti Hawa diciptakan mendampingi Nabi Adam, membangun peradaban ini, meneruskan keturunan dan membawa anak manusia kembali pada ILLAHI dan berbahagia dalam rumah-rumahnya di surga,


Wanita, Hadir dalam hidup kita yang penuh warna dengan sejuta pesona yang menggambarkan ; kekuatan, ketegaran, kesabaran, ketabahan, kepandaian, ketaatan, ketekunan dan kecerdasan yang luar biasa, dan yang terpenting adalah yang tidak akan pernah di alami lelaki adalah kemampuan menahan sakitnya melahirkan bahkan sampai mempertaruhkan nyawa. Namun ketika iman tidak lagi bersemayam di dada, ketika kebodohan dan emosi jiwa mencengkram kuat para wanita, pikiran sehat terbang bercampur di udara, maka wanita mampu menjadi sumber rusaknya rumah tangga, porak porandanya tiang istiqomah para lelaki, hancurnya sebuah negara, dan jeritan sakit hati dari anak-anak yang lahir tanpa kasih seorang wanita.


Maka wajarlah bila Nabi menitipkan banyak pesan kepada para wanita, dan pesan beliau untuk kita ; Wanita di ciptakan dari tulang rusuk kaum adam, bila terlalu keras dia patah, bila terlalu lembut dia bengkok. Dan bila baik wanita maka baiklah sebuah negara.


Nasehatilah para wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulung rusuk wanita adalah yang paling atas. Maka , jika kamu paksa meluruskannya, kamu akan mematahkannya dan jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok (HR Bukhari).


Wanita, mari bergandeng tangan meniti tangga ke surga. Di sanalah seharusnya tempat kita, ketika derita dan susah payah bukan lagi milik kita, namun semua itu hanya bisa di lakukan ketika kita bergelar "wanita Sholeha" dengan bantuan diri kita sendiri dan para lelaki yang bergelar suami, anak, ayah dan para ulama.


Bangkitlah wanita, kita di ciptakan hanyalah untuk beribadah dan membawa diri dan orang-orang di sekeliling kita untuk kembali pada ALLAH SWT.

Salam pesona wanita, From Syaffiya

www.eramuslim.com

Senin, Januari 18, 2010

Lemas..., Kenapa, ya?

Ngga tahu kenapa, hari ini selesai sarapan badan tiba-tiba jadi lemes banget. Ini ngetik2 di keyboard pun sambil terantuk-antuk, salah2 melulu ketik hurufnya, gak ada tenaga. Awalnya kepala berat, sekarang menjalar ke badan. Tadi udah dipijit2 sama Ummi-nya sayang kecil, tapi masih lemes aja. Alhamdulillah naskah sedang di-setting, jadi agak2 free.

Kenapa, ya? Apakah ada pertumbuhan dari sayang kecil yang buat Bundanya jadi agak2 loyo begini, ya? Atau karena masalah perut yang sejak pagi tadi sampai2 mengganggu jadwal berangkat ke kantor?

Udahan aja deh, mau coba rebahin kepala. Semoga jika memang sayang kecil sedang bertumbuh dan berkembang di dalam perut Bunda, ia baik2 selalu :) Amiin.